Alasan Mengapa Seseorang Mempelajari Ilmu Pengasihan

Kebanyakan orang yang tertarik mempelajari ilmu pengasihan disebabkan oleh sejarah masa lalunya, misalnya ia melihat fenomena-fenomena unik di lingkungannya. Sebagai contoh, banyak pria beristri lebih dari satu dan kondisi keluarganya rukun dan tidak ada masalah yang berarti. Uniknya, banyak di antara pria pelaku poligami itu yang tidak terlalu menarik baik dari segi lahiriah maupun finasial-tetapi pada kenyataannya, mereka disukai banyak wanita.

Adanya fenomena unik itu sering kali memunculkan analisis-analisis hingga mendorong sebagian remaja yang secara umum memiliki kecenderungan serba ingin tahu (mencoba) itu mencari jawaban apa yang belum diketahuinya. Oleh karena itu, wajarlah jika kemudian ilmu pengasihan itu menjadi objek penelitian, sekaligus dijadikan pegangan yang bersifat pribadi.

Salah satu dari pelaku ilmu pengasihan mengisahkan bahwa kali pertama belajar, sang guru ia tidak diperkenankan mempelajari ilmu pengasihan yang dapat digunakan untuk “memengaruhi” orang lain yang bersifat pribadi. Pelet yang bersifat pribadi itu lebih banyak mudaratnya (keburukan) daripada manfaatnya.

Ilmu Pengasihan Umum & Khusus

Menurutnya, ilmu pelet atau ilmu pengasihan itu terdiri dua macam. Ada yang bersifat umum agar disenangi banyak orang, ada juga yang dikhususkan untuk pribadi, biasanya untuk menarik lawan jenis (Iaki-Iaki atau perempuan).

Karakteristik dari ilmu pengasihan juga memiliki perbedaan. Amalan atau doa yang diambil dari ayat suci (Alquran) diyakini lebih aman daripada yang bersumber dari Japa Mantra dengan bahasa campuran-seperti ilmu ajian jaran goyang dan mantra lain yang teksnya lebih menonjolkan “keakuan” diri. Teks tersebut lebih “keras” dibandingkan dengan bentuk teks yang menunjukkan arah permohonan kepada Tuhan.


Baca Juga


Reaksi mantra pengasihan dengan bahasa campuran-terdiri dari petikan ayat-ayat suci yang sudah dikombinasi bahasa daerah-biasanya lebih cepat daripada yang murni doa. Namun, ilmu pengasihan yang umum maupun yang pribadi sama-sama menggunakan kekuatan energi, khususnya energi dengan memprogram pikiran bawah sadar.

Ada perbedaan yang mendasar antara pengasihan yang digali melalui jalur doa dengan jalur tradisional. Pada umumnya, pengasihan yang berasal dari jalur doa memiliki karakteristisk yang lembut, tetapi dengan pencapaian hasil yang relatif lebih lama (awet). Dengan demikian, cara ini hanya dapat dilakukan bagi orang yang memiliki kesungguhan, misalnya yang ingin berlanjut ke jenjang pernikahan.

Sementara itu, yang berasal dari jalur tradisional menghasilkan reaksi pelet / pengasihan yang relatif lebih cepat, tetapi reaksinya juga cepat luntur. Pada umumnya, pelet tipe ini hanya efektif untuk bermain-main alias mengumbar nafsu.

Dalam dunia pengasihan, ada rumus: “Sesuatu yang cepat datang, cepat pula perginya.” Berbeda dengan jalur doa yang lebih membutuhkan ketekunan dan istiqomah dengan sebuah konsep ilmu. Karena sifatnya yang cepat itu, jalur tradisional mendorong sang pelaku pelet cenderung suka iseng dengan ilmunya.

Menurut keyakinan tradisional, segala aktivitas perpeletan diyakini melibatkan unsur nonpribadi yang disebut khodam (pembantu). Melalui jalur doa, arah permohonannya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana (AI-Hakim) sehingga tidak setiap permohonan dikabulkan. Dalam ilmu kasepuhan, suatu permohonan atau doa jika tidak diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan, berarti ia (yang berdoa) itu menerima bentuk pengabulan doa yang tidak diridhoi oleh Tuhan.ilmu pengasihan dan pelet

Sementara itu, terkadang, permohonan pelet melalui jalur tradisional bukan langsung kepada Tuhan, melainkan melalui makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang secara spiritual berada di bawah derajat manusia (dari golongan jin-setan). Oleh karena itu, proses terkabulnya sering kali lebih cepat karena permohonan itu didorong oleh pihak-pihak yang paling suka jika dimintai bantuan manusia untuk hal-hal yang bersifat negatif.

Jadi, ada kriteria pelet yang memiliki kriteria “cepat, tetapi mudah luntur” dan ada pelet yang “lambat reaksinya, tetapi awet”. Oleh karena itu, terkadang ada orang merasa perlu memiliki kedua jenis pelet itu ketika mereka hendak memikat orang lain.

Kedua jenis pelet, yaitu pelet tradisional dan pelet dari unsur doa, dapat digunakan bersamaan. Ilmu Pelet reaksi cepat digunakan sebagai pembuka serangan awal. Selanjutnya, sambiI menunggu masa berlakunya habis, digunakanlah pendekatan yang bersifat alamiah. Sebagai contoh, memperlakukan pasangan dengan baik agar pendekatan yang alamiah itu dapat menumbuhkan simpati yang bersifat alami.

Bagi kalangan masyarakat awam, ada kepercayaan bahwa Pelet reaksi cepar itu hanya mampu bertahan dalam kurun waktu sekitar 35 hari dalam istiIah Jawa, disebut sepasar. Setelah itu, reaksi pelet mulai menipis dan mendekati hari yang ke-40, korban mulai netral secara alami, kecuali jika si pelaku pelet melakukan “isi ulang” dengan membaca mantranya atau melakukan tirakat sebagaimana yang berlaku pada alirannya.

kristal anti santet

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!