Bagaimana Setelah Tuyul Terusir Dari Majikannya?

tempat tuyul

Banyak orang bertanya, bagaimana nasib tuyul yang sudah terusir atau pergi dari majikannya? Mungkin kita mengira tuyul itu akan kembali kepada majikan asalnya (pawang) atau kembali dimana tuyul itu diambil.

Menurut para ahli tuyul maupun orang-orang yang pernah memelihara tuyul. Tuyul yang sudah tidak terawat itu menggelandang di jalanan, pasar dan tempat yang disukainya (sepi/angker).

Saat menggelandang itu ia berupaya mencari majikan baru yang memiliki kriteria-kriteria yang menyebabkannya suka. Seperti memiliki sifat bakhil, memiliki rumah yang sepi dari keramaian tetangga, terlebih lagi yang memiliki istri gemuk dan berpayudara besar.

Kisah tentang tuyul yang kluyuran mencari majikan baru itu bisa dilihat pada kisah sepasang tuyul yang menemui imam masjid yang setelah ditolak kemudian menghambakan diri pada adik imam masjid yang tidak mempunyai anak.

Sedangkan kisah tuyul yang berkaitan dengan payudara ini, suatu saat seorang rekan penulis yang terlilit hutang ratusan juta rupiah. Karena secara akal sudah tidak ada jalan halal bisa menyelesaikannya, akhirnya ia menempuh jalan pintas.

Ia datang ke seorang dukun pedalaman Jawa Barat yang memiliki ilmu cukup tinggi. Niat rekan itu si Dukun diajak masuk ke sebuah hotel di bilangan Semarang yang ada area Judi, dengan maksud si Dukun itu mampu menjebol area judi dengan kekuatan batinnya.


Baca Juga


Setelah masuk ruangan ini, si Dukun mengaku kehilangan konsentrasi. Pertama oleh suara berisik musik keras yang dimainkan, dan yang kedua oleh para pelayan yang memakai pakaian seksi nan menggoda. Tidak hanya itu, masih menurut si Dukun, tempat ini menurutnya menggunakan kekuatan pelindung yang mampu menetralisasi kekuatan pengunjung. Kasarnya ilmunya tidak bisa digunakan ditempat tersebut.

Gagal melakukan aksinya, dukun tersebut mengajak rekan saya tersebut menuju daerah Jawa Timur. Konon, menurutnya pada jembatan sungai (karena permintaan daerah tersebut tidak bisa kami sebutkan) banyak tuyul-tuyul lepasan.

Sesampai di jembatan itu si Dukun menangkap tuyul, akan tetapi tuyul tersebut menanyakan banyak hal tentang pihak yang menangkapnya. Diantaranya umur berapa calon majikan putrinya.

Ketika si Dukun menjawab 40 tahun, tuyul itu spontan tidak mau. Menurut dukun tersebut si tuyul berkata (dalam bahasa jawa) :“Moh ah, yen bojone lemu tur isih enom ya aku gelem, jen ngombeku enak” Yang artinya :” Tidak mau ah, kalau istrinya masih muda dan gemuk ya saya mau, biar minumku enak”.

tempat tuyul
Salah satu punden, tempat tuyul bersemayam

Benar tidaknya cerita ini saya tidak tahu, karena rekan saya yang cerita dan saya tidak tahu kejadiannya secara langsung. Cuma ada hal yang cukup unik, menurut rekan saya tuyul yang ditangkap sesaat itu sempat dimanfaatkan untuk mencuri uang 50ribu, dan dimanfaat untuk untuk makan di restoran.

Dan karena uang pecahan 50 ribuan itu masih baru dan belum banyak beredar (waktu itu) rekan saya bersama rombongannya sempat berurusan dengan pihak yang berwajib karena begitu menerima uang pihak restoran menganggap sebagai uang palsu.

Selanjutnya rombongan itu sempat menginap di kantor polisi semalam dan pagi harinya dilepaskan setelah dalam penelitian, uang itu dinyatakan asli.

Tuyul liar yang tidak punya majikan menurut para ahli ilmu tuyul justru tidak merepotkan lingkungan. Ini berbeda dengan gelandangan dari manusia. Tuyul hanya mau mencuri jika disuruh majikannya.

Tuyul itu termasuk binatang yang penurut. Bahkan ada cara mengelabuhi tuyul agar si tuyul bekeja lebih giat. Caranya, majikan mengundang para tetangga datang ke rumah. Dalihnya bisa acara selamatan atau syukuran. (Dikategorikan syukuran sepertinya kurang tepat, sebab syukuran itu semestinya ditujukan kepada Allah SWT).

Cara lain, para tetangga itu didatangkan walau untuk sekedar menonton televisi atau acara yang lain. Nah, saat para tetangga itu bubar ke rumah masing-masing, pihak majikan menemui tuyulnya dan mengatakan bahwa orang banyak tadi adalah datang untuk menagih hutang. Dengan demikian si tuyul lebih terangsang bekerja (mencuri) lebih giat lagi.

Apa yang terjadi di lingkungan dunia pertuyulan ternyata tidak jauh dari dunia jin. Maklum, karena tuyul pun merupakan bagian dari etnis jin. Yaitu pada umumnya mereka kalangan makhluk halus yang hanya memiliki satu jenis keahlian saja.

Seperti jin yang kerjanya mencuri maka ia pun tidak bisa melakukan pekerjaan selain mencuri. Sebaliknya jin yang memiliki keahlian dapat bidang pengobatan pun tidak mungkin melakukan pencurian.

Bagaimanapun yang terlengkap menerima karunia dari Allah SWT adalah manusia. Maka, walau jin atau tuyul yang oleh sebagian orang dikultuskan itu ternyata dengan mudah dikelabuhi manusia. Seperti orang kondangan atau menonton televisi dikatakan orang menagih hutang tuyul pun mempercayainya.

Bahkan dalam beberapa kali menangani kasus orang kesurupan jin. Saya berhasil mengusir jin dari badan wadag manusia dengan cara menipunya. Yaitu menakuti dengan menyebut nama seseorang yang tingkat spiritualnya memungkinkan ditakuti kalangan jin.

ayat seribu dinar

Dalam kisah klasik  manakib Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, disebutkan bahwa zaman beliau masih hidup tidak ada orang yang kesurupan. Karena begitu ada yang kesurupan, orang menyebut nama beliau yaitu membohongi jin melalui badan wadag itu bahwa yang mcngobati itu mendapat mandat dari Syekh Abdul Qodir agar jin itu segera menyingkir atau Syekh Abdul Qodir turun langsung.

Saya pun bebernpa kali menyebut nama seorang Kiai Kharismatik dari suatu daerah ketika menghadapi orang kesurupan dan ternyata sebagian besar dari jin itu takut dengan tehnik gertakan.

batu giok pengasihan

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!