Benarkah Santet Tergolong Ilmu Hitam?

santet tergolong ilmu hitam

Bagaimana pendapat pengikut aliran santet menyikapi tudingan bahwa santet adalah ilmu hitam?

Menurut mereka, sebutan santet sebagai ilmu hitam hanya persepsi dari “orang luar”. Ketidaktahuan orang luar terhadap tradisi orang-orang pada zaman Kerajaan Kediri itu menyebabkan mereka mengambil sikap gebyah uyah atau pukul rata. Karena kebanyakan orang yang berbicara santet adalah mereka yang tidak terlibat langsung dengan dunia persantetan, atau mereka yang mengenal santet dari sumber yang tidak jelas.

Santet menurut mereka adalah tradisi turun-temurun yang hingga kini masih dilestarikan sebagian orang sebagai sebuah ngelmu sekaligus ageman (pegangan) untuk mempermudah berbagai problem hidup. Karenanya tidak mengherankan jika hingga saat ini, santet masih dipelajari secara sembunyi-sembunyi oleh sebagian pengikutnya. Walaupun dijelaskan bahwa tidak setiap pengikut santet mampu menguasai ilmu santet secara utuh karena semua ditentukan dari kesungguhan dalam laku batin dan faktor wadah atau bakat.

Sisa-sisa ilmu santet hingga kini masih dipelajari oleh sebagian orang (khususnya di Jawa). Pengikut aliran santet meyakini bahwa santet adalah ilmu yang bebas nilai dan tidak berada pada wilayah hitam atau putih. Jika kemudian santet itu digunakan untuk tindakan di luar kebenaran, berarti menjadi tanggung jawab pribadi pelakunya.

Lantas bagaimana dengan tudingan kalangan pengikut ajaran agama samawi bahwa santet melibatkan makhluk gaib yang digambarkan sebagai jin, setan, atau iblis, yang menyebabkan santet diberi label sebagai ilmu hitam? Mereka mengatakan sebagian dari santet ada yang berproses secara alami dan murni kekuatan pikiran (mind power) dan itu dapat dilihat dari bagian mantranya, “Saka kuasa ingsun” yang artinya “dari kekuatanku”. Kekuatan kehendak pribadi ini biasa disebut dengan istilah “Aku Batin”.

Dikenal juga santet dari tataran yang lebih tinggi hingga melibatkan unsur gaib (non-pribadi). Namun pengikut santet menyatakan bahwa “makhluk gaib” yang dimintai bantuan itu bukan jin, setan, atau iblis. Mereka menyebut dengan istilah “gaib” saja. Dan yang namanya gaib itu bisa berarti Tuhan, malaikat, dewa, danyang, dan makhluk gaib lainnya. Yang pasti, secara spesifik mereka tidak menyebut gaib itu dengan istilah jin atau setan.
Karena meyakini santet sebagai energi yang bebas nilai, santet dianalogikan sebagai gelas kosong yang dapat diisi atau diwarnai apa saja, tergantung pada keinginan pemiliknya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, para pengikut aliran santet mengibaratkan kelompok mereka seperti Ronin di Jepang yang ketika pemimpinnya terbunuh, mereka lalu mengembara dan hidup menyatu di tengah masyarakat umum. Di Jepang, Ronin hidup miskin dan tinggal di rumah-rumah sewa. Tukang santet berbaur di tengah masyarakat dan identitas mereka sering tidak terdeteksi.

pengobatan jawa

Ada beberapa hal yang khas dari para pengikut aliran santet. Mereka memiliki tradisi silsilah atau sanad keilmuan sebagaimana yang berlaku di lingkungan tarekat dalam Islam. Mereka mengetahui dari siapa guru mereka belajar santet dan nama guru-guru dari generasi sebelumnya. Senioritas dalam komunitas santet juga dihormati dan secara keilmuan, mereka tetap berpegang pada pakem leluhurnya.

Pada umumnya, para pengikut aliran santet memiliki bawaan over confidance atau rasa percaya diri yang sangat kuat. Mereka memposisikan santet sebagai “ilmu pasti” yang diyakini dapat digunakan kapan pun karena santet adalah fenomena alam yang tidak terikat dengan “salah dan benar” sebagaimana racun yang tidak perlu ditanyakan posisi salah atau benar pada calon korbannya.

garam pangruwat

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!