Bolehkah Mempercayai Jin?

hukum mempercayai jin

Bolehkah manusia mengikuti apa yang dikatakan jin, baik Jin itu datang melalui mimpi, melalui wujud penjelmaan atau yang sedang menyusup dalam tubuh manusia?

Jin itu makhluk yang sama dengan manusia. Artinya, ia sama-sama mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Allah. Tetapi bentuk (jisim) manusia dengan jin itu berbeda. Manusia diciptakan dari unsur tanah dan jin dari unsur api. Jin dapat melihat manusia, manusia tidak bisa melihat jin.

Islam sendiri tidak kaku. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk tidak melihat siapa yang berbicara, melainkan lihatlah apa yang dibicarakannya. Karena itu, sepanjang ucapan itu baik, tidak ada salahnya untuk diikuti.

Namun demikian, kita harus waspada. Saya sendiri tidak begitu dalam menekuni ilmu tentang jin. Pengetahuan saya hanya sebatas bagaimana mengobati (menyingkirkan secara halus) makhluk jin yang mengganggu manusia dan berdialog secara batin.


Baca Juga :


Karena keterbatasan manusia untuk mengetahui dari jenis mana jin yang berbicara itu, akan lebih baik jika harus memasang sikap hati-hati. Sebab, boleh jadi jin itu sebenarnya kafir, namun karena ingin menyesatkan manusia maka ia menyamar sebagai muslim dan berbicara yang baik-baik (pada awalnya) dan setelah orang merasa percaya, baru dia melancarkan aksi penipuannya.

Untuk menjaga jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, saya pribadi lebih memilih untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh yaitu dalam hal ini mempercayai jin. Bukankah segala informasi itu sudah ada dalam Alquran dan hadis, sedangkan pengetahuan yang berasal dari manusia pun seumur hidup tidak akan selesai untuk dipelajari. Jadi, buat apa kita musti belajar dari makhluk lain.

Pendapat Lain Versi Metafisika

Banyak ahli hikmah meyakini bahwa sebaik-baik jin sebanding dengan seburuk-buruk manusia. Sejauh ini saya belum mendapatkan informasi berasal dari sumber mana istilah itu, apakah dari hadist atau dari kaidah ilmu hikmah.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, selama ini, mempelajari ilmu tentang jin, memang benar bahwa jin itu termasuk kategori makhluk yang lihai dalam tipu daya. Semisal, seorang yang mempelajari ilmu khodam jin, suatu saat dibisiki bahwa di bawah pohon besar bagian utara alun-alun di kotanya terpendam harta karun.

Malam hari, orang itu menyiapkan cangkul. Ketika dilihat suasana sudah sepi, ia cangkuli lokasi itu. Hasilnya? Jangankan harta kanm didapatkan. Ia justru tertangkap polisi.

Contoh konkrit lainnya adalah cerita tentang Jin ifrit yang berhasil menipu daya seorang ahli ibadah Barshisha. Kisah lengkapnya bisa Anda baca disini : Kisah Barshisha, Si Rajin Ibadah Yang Berhasil Ditipu Jin Ifrit

Jin yang biasanya membisiki manusia adalah jin dari kalangan rendah. Sebagian besar mereka menggunakan tipu daya di seputar harta karun karena pada umumnya manusia itu mudah lepas kendali manakala mendengar informasi tentang barang yang satu ini.

Selain sering memberikan wisik (bisikan) tentang harta karun, jin juga sering menyatut nama besar seseorang. Semisal, mengaku sebagai arwah Sunan Kalijaga dan nama wali-wali yang lain. Ini semua hanyalah tipu daya belaka.

Hampir setiap saya bertemu dengan orang yang kesurupan, jin selalu mengaku berasal dari keluarga raja. Mereka (para jin) mengetahui bahwa pada umumnya manusia tidak melihat dirinya dan awam dengan perilakunya. Dengan demikian ia yakin bisa mengelabuhi manusia.

Kembali ke masalah pertanyaan, apakah jin itu bisa dipercaya? Saya cenderung sependapat dengan para hukama, yaitu mewaspadai ucapannya. Artinya, setiap ucapan itu harus diseleksi, jika sejalan dengan kebenaran, tidak ada salahnya untuk diterima. Namun jika mulai menyimpang dari kebenaran, kita harus berani tegas menolaknya.

ayat seribu dinar

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!