Cara Meruwat Diri Agar Berfikir Positif

berfikir positif dengan ruwat

Cara Meruwat Diri Agar Mampu Berfikir Positif dan Hidup Lebih Baik

Saya pernah membaca sebuah buku (lupa judulnya). Ada suatu kalimat yang amat mengesankan. Kurang lebih berbunyi, “jiwa kita tercelup dan memperoleh warna sesuai dengan bagaimana corak berpikir.”

Seorang spiritualis pernah memberikan nasihat kepada saya untuk lebih banyak berhati-hati dalam berpikir, berkata dan berprilaku. “Katamu adalah doamu,” pesannya, begitu melihat kebiasaan saya yang sering guyon dan cengengesan.

Orang-orang yang secara khusus mengolah batinnya, merasa perlu mengendalikan lidahnya. Setiap ucapan bisa bermaksud “sabda” yang bertuah. Dan itu berlaku bagi diri sendiri juga orang lain.

Di daerah saya, ada orang sepuh yang kuat dalam laku batinnya. Tirakatnya kuat, sekuat ia mengekang perbuatanperbuatan yang tidak patut, ditinjau dari sisi agama maupun adat yang berlaku pada masyarakat.

Masyarakat segan alias “takut” kepadanya disebabkan ucapannya yang mengandung tuah. Bayangkan! Seorang tetangga yang kepergok sedang mencuri buah nangka, orang sepuh itu menegurnya, “Kamu kok tidak melihat tetangga si…,” dan akibatnya, tetangga yang panjang tangan itu menjadi buta.

Pada masyarakat kita ada keyakinan bahwa para wali juga  memiliki kekuatan “sabda” pada setiap ucapannya. Karena itu para wali hanya berbicara yang baik dan yang dianggap perlu.

Ucapan itu bisa mengandung makna cara seseorang mengaktualisasikan kehendak atau kekuatan batinnya. Itu berarti, semakin kuat (bersih) batin seseorang, makin bertuah pula ucapannya. Seseorang yang memiliki batin kuat, apa yang terprogram dalam hati dan pikirannya hampir selalu menjadi kenyataan (tercapai). Ini sebuah pelajaran bagi kita semua agar lebih hati-hati dalam segala hal.

Hati atau batin itu ibarat memori yang akan mewarnai layar raga seseorang. Jika hatinya negatif, raga pun ikut negatif. Dan yang akan kita bahas kali ini adalah, bagaimana agar hati dan pikiran itu selalu terisi dengan berfikir positif.

Cara Berfikir Positif Dengan Meruwat Diri

Cara berpikir seseorang, amat dipengaruhi oleh latar belakang suatu tradisi/kepercayaan dalam lingkup keluarga atau masyarakat. Tentu, yang namanya kepercayaan ada yang positif, ada pula yang negatif.

Kepercayaan yang negatif adalah suatu kepercayaan yang membelenggu gerak (kebebasan) yang tidak sehat. Tidak memiliki landasan logika dan tuntunan agama. Biangnya adalah klenik dan rasa takut yang timbul dari pribadi seseorang.

Jangan dikira, pada zaman modern seperti sekarang ini, klenik justru tumbuh subur dengan kemasan yang terkesan ilmiah (intelek). Begitu halnya dengan klenik konvensional, sebagian dari kita masih memegang erat, dengan dalih sebagai penghormatan terhadap budaya.

Suatu keyakinan tidak “sehat” yang dialami dijadikan pedoman akan menghilangkan akal sehat. Membuat jiwa tidak bebas merdeka. Misalnya? Banyak orang menjalani hidup dengan penuh keraguan, mengambil keputusan serba salah hanya karena dihantui mitos-mitos yang tidak lagi relevan pada zaman sekarang.

Kelucuan sering kita saksikan di depan mata kita. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah berumah tangga dan memiliki keturunan, tiba-tiba memilih cerai dengan pasangan hidupnya hanya karena dinasihati dukun klenik bahwa pasangan hidupnya itu tidak cocok (serasi) berdasarkan horoskop tradisionalnya. Pasangan muda-mudi yang menjalin cinta kasih saling berpisah juga karena nasihat paranormal, bahkan tetangga saya memilih dalam satu tahun tidak bekerja  sebagai sopir karena dia yakin bahwa tahun ini kejayaannya sedang menempati posisi apes (sial).

Tragisnya, peyakin mitos-mitos (klenik) itu juga manusia yang setiap saat mendengarkan firman-firman Allah dan setiap hari berikrar bahwa berdoa dan menyembah (hanya) kepada Allah, bahkan memasrahkan diri ( dengan ucapan) bahwa, “Hidupku, matiku hanya untuk Allah.”

Secara psikologis suatu keyakinan yang tidak sehat itu mengerdilkan jiwa. Orang (yang meyakini) tidak lagi bebas menentukan, mengedepankan akal sehat dan kemurnian religinya. Mereka mendoakan dirinya dengan prasangka yang buruk.


Baca Juga :


Kalau kita kembalikan hal ini dengan petuah, “Katamu adalah doamu,” alangkah ruginya seseorang yang bersandar pada suatu keyakinan yang menghambatnya mampu membentuk pola pikir yang positif.

Dengan kata lain, seseorang yang meyakini pasangan hidupnya tidak cocok, lokasi tempat tinggal tidak membawa keberuntungan, meyakini dirinya tidak berbakat dalam urusan rezeki, terlilit faktor magis yang menghambat kemajuannya, dan sebagainya itu, samalah artinya dia nyumpahi diri sendiri.

Bahwa jiwa memperoleh warna sesuai dengan corak berpikirnya. Para spiritualis pun sependapat dengan pepatah itu. Keyakinan hati berarti prasangka yang secara khusus dibahas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Hakim, ana ‘inda dhon-ni ‘abdiibi yang artinya, “Aku (Allah) selalu menuruti persangkaan hamba-Ku.”

Apa yang disebut prasangka itu, dalam bahasa inteleknya disebut sugesti. Hingga bisa disimpulkan, apa yang disugestikan seseorang, maka itu akan dituruti oleh-Nya. Karena itu, bijaksanalah dalam bersugesti. Atau dengan kata lain, bersugestilah yang positif saja. Sugesti negatif, jangan!

Para ahli ilmu batin dari kalangan ahli hikmah menganggap bahwa tidak setiap doa itu harus diucapkan dengan lisan. Sebagaimana saya singgung di depan, gerak hati pun merupakan kehendak atau doa.

Sederhana sekali orang-orang terdahulu berargumentasi. Tuhanku Maha Mendengar, Tuhanku Maha Mengetahui, kata mereka. Doa, menurutnya bisa dihaturkan melalui getaran hati, juga geraknya lidah (ucapan). Orang-orang modern ada sebagian yang memiliki “mantra” skuler. Mereka justru yakin bahwa dalam diri ini sudah tersimpan suatu energi gaib amat kuat yang bisa digugah walau tanpa menyebut asma-Nya.

Bagaimana cara menggugahnya? Menurut mereka dengan menyugesti diri. Walau hal ini agak benar, secara etika beragama cenderung “kurang ajar”. Bagaimana mungkin orang ingin mengobati orang sakit cukup berkata, “Hai, mulai saat ini, sakitmu sudah hilang,” sambil melototi pasien. Dan “mengusir” mendung sambil berkata, “Mendung, pergi dulu, menyingkir untuk sementara, saya mau ndang dutan, nih ….. ” Ha ha …. Dalam hati saya bertanya, sejak kapan ente belajar menjadi malaikat. Samber gledeg tahu rasa lu!

Menyugesti diri untuk hal-hal yang positif diperbolehkan. Tidak ada masalah. Justru pembentukan sugesti itu mengaktualisasikan betapa Tuhan kita menciptakan manusia sebagai ciptaan yang terbaik. Sugesti itu akan lebih baik jika dituntun oleh aturan, etika maupun agama. Membiarkan sugesti yang be bas secara tidak langsung menyeret seseorang bersikap takabur atau sombong.

Sugesti menjadi terarah jika ada unsur batin yang menyertainya. “Batin” yang saya maksud itu adalah kepercayaan terhadap “hal yang gaib” tetapi dia bukan bagian dari tahayul atau klenik.

Hal gaib yang paling pokok untuk diyakini adalah Yang Maha Gaib beserta aturan-aturan-Nya. Dari situ nanti bisa diklasifikasikan, mana yang klenik dan mana yang harus diyakini dengan iman.

Firman Allah adalah petunjuk atau jalan terang agar seseorang mampu membedakan mana jalan penuh lobang dan jalan lapang yang apabila dilalui lebih mudah sampai menuju kebahagiaan.

Sugesti, yang keberadaannya identik dengan kehendak dan logika harus diiringi dengan kesadaran religius. Jika dua hal ini menyatu akan menjadi kekuatan dua arah (lahir-batin).

Seseorang yang hanya menggarap satu sisi “kekuatan” itu cenderung untuk menjadi intelektual yang takabur atau spiritualis yang picik. Padahal, setiap sisi ini memiliki makna yang sama, seperti sisi mata uang. Dibolak-balik pun nilainya sama.

garam pangruwat

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!