Cerita Seputar Pawang Hujan Bag. 1

pawang hujan

Guna penulisan artikel ini, saya mewawancarai sedikitnya sembilan pawang hujan dari kalangan sepuh (tua). Dari sembilan pawang itu yang dua orang memiliki sifat amat tertutup, sehingga hanya sedikit informasi berhasil saya gali. Bahkan yang seorang itu masuk kategori orang yang(terlalu) tertutup, sehingga sedikit pun tak berhasil tergali informasi darinya. Dan ini sejarah perjalanan saya sebagai pencari informasi metafisik, sudah hal yang biasa berhadapan dengan orang macam demikian.

Ranking kedua orang tertutup itu akhirnya sedikit mengalah karena sudah kenal baik. Sedangkan yang empat orang enak-enak saja informasinya, karena selain sifatnya yang terbuka, keempatnya sudah saya kenal secara baik. Dan ketika wawancara pun saya dikawal orang yang dikenal dekat dengan para pawang itu.

Istilah pawang hujan itu sebenarnya hanya untuk menyesuaikan dengan materi yang dibahas dalam artikel ini. Istilah yang pas bagi mereka ini adalah orang yang memiliki keahlian disebabkan dia menerima suatu ajaran baik secara alami, gaib, atau belajar dari manusia (guru).

Berarti, jika dia itu pawang hujan, maka dia tidak lagi melayani tamu untuk keperluan diluar itu. Nah, para pawang itu pada umumnya masih serabutan. Kalau ini sah-sah saja, menurut saya menjadi kurang pas. Jauh sebelum saya mengadakan pengamatan hal-hal diseputar perpawangan hujan, asumsi saya tentang pawang hujan itu adalah orang yang memiliki suatu media, apakah itu benda wasiat leluhurnya ( azimat) dan ilmu khusus yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Bahkan, sebelum mengadakan survey, saya sempat pesimis disebabkan minimnya informasi. Keyakinan saya akan bertemu dengan narasumber justru atas informasi beberapa sahabat yang saya hubungi. Pawang yang semula saya anggap sebagai profesi langka, ternyata banyak tinggal diseputar daerah saya.

Metode Nyleneh Sang Pawang Hujan

Pencarian saya terhadap pawang hujan awal kali jatuh pada seorang tetangga yang dikenal sebagai calo (penghubung) khususnya jika ada orang yang ingin punya hajat agar hujan tidak turun.

Menurut masyarakat, hasil dari ikhtiarnya itu lebih banyak berhasil. Setidaknya menurut catatan masyarakat, dari lima kali dimanfaatkan, hanya sekali gagalnya.

Sayangnya, saat saya wawancarai itu terlontar kalimat yang kurang mengenakkan. Yaitu, menurut sang penghubung itu, saat sang pawang sedang nambak (menahan) hujan, dia itu masuk kamar. Dan dalam keadaan puasa ngebleng  satu hari satu malam dia pun telanjang bulat.

Secara teori, jelas hal ini teramat nyleneh sekaligus melanggar etika. Namun, ada sisi lain yang positif. Yaitu, menurut sang penghubung itu, si pawang hujan ternyata bekerja secara ikhlas. Artinya, dia tidak mengenakan tarif resmi. Bahkan, bagi orang yang merasa berhasil, si pawang hujan itu sudah cukup senang jika diberi hadiah ingkung ayam.

Kepada penghubung itu saya bertanya tentang kebiasaan pemesan order memberi uang sejumlah berapa. Dia pun menjawab istilah uang itu dengan tindihan. Berkisar hanya Rp.10.000 (pada masa itu), Dalam hati saya tersenyum. Bayangkan, seseorang bisa bisanya telanjang bulat dalam kamar dan menahan lapar satu hari satu malam hanya diberi imbalan sejumlah itu.

Karena itu, walah metodenya cenderung menyimpang alias nyleneh, jika kemudian berhasil, menurut pengamatan saya lebih disebabkan karena keikhlasan hatinya didalam menolong orang lain.

Karena ingin informasi yang lebih akurat, saya pun mendatangi kebiasan sang pawang. Ternyata, dalam prosesnya, pawang itu melakukan ritual yang kontroversial bagi beberapa kalangan. Yaitu, mengunjungi makam seorang tokoh zaman dulu yang dikenal sebagai mbah Luntho yang bernama asli Den Mas Suyitno. Uniknya, si pawang itu sendiri juga tidak mengenal secara pasti siapa gerangan mbah Lontho itu disebabkan jabatan sebagai juru kunci diterimanya secara turun temurun.

Saat mengunjungi kediaman juru kunci makam mbah Luntho itu, saya hanya bertemu sesaat dengannya. Itu pun ditengah perjalanan, karena ketika saya datang di kediamannya sang juru kunci sedang keluar. Dan kami bertemu saat saya sudah dalam perjalanan pulang.

Kami berjanji untuk bertemu pada keesokan harinya. Namun, pada saat yang sudah saya sepakati, tiba-tiba leher saya sakit (nyeri otot). Untuk bergerak saja susah dan sakitnya luar biasa, bahkan saya pun terpaksa harus mengunjungi berobat ke dokter.

Menurut teman-teman saya, sakit yang saya alami itu sebuah isyarat (tanda) saya untuk tidak menulis (mengekspos) metode pawang hujan yang “menyimpang” itu. Pertimbangannya, sang juru kunci sendi’ri tidak tahu pasti sejarah dari Jasad yang disemayamkan dimakam itu. Apakah orang saleh atau orang yang zalim pada masa hidupnya.

ayat seribu dinar

Menurut tradisi yang berlaku dikalangan masyarakat muslim, tawasul atau mencari perantara dalam memohon kepada Allah SWT, diperkenankan jika dilakukan terhadap orang yang saleh semasa hidupnya.

Nah. kali ini, yang saya datangi adalah makam (punden) yang tidak jelas identitasnya. Apalagi kualitas religi dari sang juru kunci pun meragukan untuk dijadikan seorang penuntun. Berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan itu, saya memutuskan untuk metode pawang hujan yang lain karena khawatir nantinya artikel ini justru dijadikan panduan bagi orang yang pemahaman keagamaannya pas-pasan justru dituntun oleh orang yang pas-pasan pula dalam agama. Naudzubillah.

Bagi orang yang kurang kuat dalam tauhid (Mengesakan Allah), metode tawasul dengan makam-makam yang dianggap keramat itu teramat riskan dan membahayakan. Karena terbatasnya pengetahuan, orang tidak lagi berdoa kepada Allah SWT, melainkan, meminta kepada kuburan.

Dikalangan masyarakat islam, tawasul sendiri masih menjadi pembahasan yang kontroversial. Ada yang memilih untuk menjauhi cara itu, ada pula yang melakukannya dengan catatan, pelaku atau yang bertawasul mengerti benar batas-batas yang boleh dilakukan. Diantaranya, tetap bermohon kepada Allah SWT dan bukan kepada mayit yang disemayamkan itu. Dan makam yang dikunjungi itu harus jelas identitasnya, prioritasnya adalah seorang tokoh spiritual yang saleh semasa hidupnya.

Tokoh yang model demikianlah yang masih bisa ditoilir sebagai perantara (tawasul) karena menurut para ulama, mereka itu hanya “pindah” alam, sebagaimana tersurat dalam Surat Ali Imran 169 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki“.

 

ayat seribu dinar

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!