Doa Wirid, Aktivitas Menabung Ilmu Batin

doa wirid

Doa wirid, sebagaimana yang kita ketahui adalah aktivitas batin (berdoa) secara rutin dan istikomah. yaitu mempertahankan aktivitas itu dalam suasana yang bagaimanapun, dalam keadaan longgar maupun sempit, dalam keadaan bahaya maupun aman.

Karena doa itu memungkinkan untuk dikabulkan dalam waktu secepatnya atau bahkan ditunda, maka dengan mengamalkan doa rutin (wirid) lebih memungkinkan ia mendapatkan keajaiban-keajaiban.
Contohnya, Anda memiliki suatu persoalan yang amat rumit untuk diselesaikan pada saat itu. Karena Anda mengamalkan suatu wirid, maka boleh jadi kesulitan itu cepat terselesaikan diakibatkan wirid atau doa yang Anda lakukan pada masa lalu.

Karena itu menurut kaidah para ahli hikmah, doa wirid bisa diartikan menabung energi. Ibarat orang menabung secara istikomah atau rutin, baik saat longgar atau sempit uang maka lambat laun isi tabungan itu akan terus bertambah dan bertambah.

Seseorang yang sudah memiliki banyak tabungan,maka ia lebih mampu menyelesaikan banyak persoalan hidup. Berbeda dengan orang yang menabung secara tidak disiplin, maka isi tabungan itu tidak terlalu banyak.

Tidak berbeda dengan kita yang hanya berdoa atau menjalankan aktivitas doa wirid hanya saat ada keperluan saja. Posisinya seperti penabung yang tidak disiplin sehingga hasilnya pun tidak memuaskan.

Menurut para ahli hikmah, segala sesuatu yang rutin walau itu sedikit, nilainya lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi hanya sesaat. Pepatah Al istikomah khairul min alfi karomah amat terkenal di kalangan mereka. yang artinya bahwa istikomah itu lebih baik dibanding seribu karomah (kemuliaan).

Berdoa atau mengamalkan doa wirid pada saat manusia dalam keadaan lapang (tidak ada kesulitan rezeki atau bahaya yang mengancam) adalah perbuatan yang amat mulia.

Berdoa yang terus menerus selain bertujuan “menabung energi” juga membentuk kepribadian rendah hati. Artinya, seseorang itu merasa ada kekuatan lain (dari Allah SWT), sehingga ia tidak takabur dengan hasil ikhtiar yang dicapainya.

Namun oleh sebagian kalangan ada yang mengidentikan, berdoa secara rutin itu tidak baik. Mereka mengibaratkan, kalau orang lain terus menerus meminta sesuai darinya maka ia akan bersifat sebel atau bosan. “Lha wong minta kok terus-terusan,” katanya.

Tetapi Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi, justru merasa senang manakala ada seorang hamba yang dengan rendah hati bermohon kepada-Nya.

Dalam suatu diskusi dengan seorang Kiai yang ahli hikmah, kami diberi ijazah oleh beliau berupa wirid Ayat Kursi yang harus diamalkan dengan cara tertentu. Pak Kiai menjelaskan, jika amalan itu tidak diwirid, maka setiap ada hajat disarankan untuk dibaca minimal 117 kali atau jika mampu (atau hajatnya teramat penting / besar) maka membacanya mencapai hitungan 330 kali.

Namun jika Ayat Kursi itu diamalkan sebagai wirid rutin dalam jumlah bilangan 7 kali setiap usai salat fardhu, maka, setiap ada hajat, cukup dibaca sekali saja. “Kok bisa demikian Pak Kiai?” tanya kami.

“Ya. Karena wirid-mu itu bisa diartikan menabung, sedangkan sekali bacaan doa wirid ketika kamu punya hajat, bisa diartikan membuka kunci tabunganmu,” jawab Pak Kiai. Konsep ini hendaknya mampu membangkitkan semangat kita, untuk mengamalkan suatu (atau beberapa) wirid secara istikomah. Sehingga manakala ada hajat, kita sudah banyak tabungan yang setiap saat bisa dimanfaatkan.

batu combong

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!