Fenomena Kawin Cerai Bagi Pelaku Ilmu Pelet

kawin cerai

Fenomena Kawin Cerai Bagi Pelaku Ilmu Pelet

Sebagian besar orang tua di pedesaan tidak menginginkan anak-anaknya mempelajari ilmu pelet. Persoalannya bukan karena khawatir si anak itu nantinya menggunakannya untuk mengumbar nafsu, melainkan lebih karena mitos yang berkembang bahwa pada umumnya orang yang memiliki ilmu pelet (jika ilmunya sudah mendarah daging), hidupnya akan susah.

Orang Jawa menyebut risiko yang dihadapi para pemegang ilmu pelet adalah hidup miskin yang diistilahkan dengan ora duwe awu sethakir yang artinya tidak memiliki abu (tanah) sebungkus pisang. Sudah tentu keyakinan semacam itu karena para pinesepuh itu melihat kehidupan yang dialami orang-orang yang dikenal menguasai ilmu pelet yang pada umumnya amburadul. Oleh karena itu, para orangtua menghendaki anakanaknya menjaga jarak dengan ilmu tersebut.

Namun, benarkah pelet identik dengan kemiskinan? Menurut saya, kesimpulan bahwa ilmu pelet identik dengan kemiskinan, itu lebih disebabkan kesalahan dalam memanjemen ilmunya. Sebagai contoh, karena merasa punya i1mu pelet menyebabkan seseorang tidak dapat mengendalikan diri. Kemudahan dalam menggaet orang (lawan jenis), yang pada umumnya hanya bermodalkan “komat-kamit”, menyebabkan seseorang hobi berpetualang dalam mengumbar nafsu.

Berikut ini informasi dari Susmanto Nur Iman (30 tahun), salah satu tokoh muda asal Sleman, Yogyakarta, yang banyak belajar pelet atau mahabbah versi ilmu hikmah, juga Kejawen dan versi ilmu buhun dari tanah Pasundan yang menjadi narasumber dalam penulisan artikel ini. Ia mengatakan bahwa berdasarkan pengamatannya, orang-orang yang seprofesi dengannya yaitu orang yang kuat ilmu pelet tradisionalnya (Kejawen, buhun) jika tanpa dilandasi dengan ilmu agama yang kuat, pada umumnya kehidupan rumah tangganya banyak yang amburadul.

Menurut murid dari tokoh “tersembunyi” bernama Mbah Nawir (Yogyakarta) dan Mbah Saiman (Banten), mayoritas pengamal ilmu pelet, minimal “melestrasikan” tradisi pendahulunya, yaitu kawin-cerai. Manurutnya, jarang para pakar pelet yang rumah tangganya sekali jadi dan tentram (istikamah).

pelaku peletMenurut Susmanto Nur Iman yang sudah 10 tahun berguru di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten, dia memiliki teman asal Serang, Banten, seusia dengannya dan sudah sembilan kali kawin-cerai. Salah satu guru yang mengajarkan ilmu pelet kepadanya pun beristri lebih dari satu, bahkan ada yang berjumlah tujuh orang seperti Mbah Asmo asal Modinan, Karangnongko, Klaten.

Dalam pengamatan saya, tradisi kawin cerai semacam itu bisa terjadi di lingkungan pengikut aliran pelet, motifnya belum tentu karena faktor peletnya yang ampuh. Salah satu guru yang pernah mengajarkan ilmu pelet pada saya baru menikah empat kali. Kerabat saya yang juga pegang ilmu pelet sudah menikah tiga kali, bahkan ada yang hingga enam kali. Fenomena apa ini?

Fenomena Kawin Cerai Pengikut Aliran Pelet

Tampaknya, sesuatu yang wajar jika orang yang memiliki piandel atau “andalan” seperti ilmu pelet dan piandel itu tetapi tidak diimbangi dengan agama, menyebabkan mereka mudah lepas kendali.

Kemudahan dalam menundukkan perempuan menyebabkan para pelaku ilmu pelet sering kali tidak menghargai lawan jenisnya. Mereka cenderung egosentris sehingga ketersinggungan ke dalam berumah tangga saja kerap berakibat fatal. Hal itu bisa jadi membuatnya juga ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki skill dalam menggaet wanita dan baginya, hal itu semudah membalik telapak tangan.

Akibatnya, sepanjang perjalanan hidup, ia hanya menunjukkan keakuan diri dan memburu kesenangan tanpa mempertimbangkan sisi-sisi kehidupan mana yang seharusnya diprioritaskan. Alhasil hanya disibukkan dengan kawin cerai saja.

Ketika seseorang memiliki program hidup untuk hal-hal di seputar love and enjoy, sisi ekonomi sering terabaikan. Hal itu bisa menyebabkan ia tidak sempat mengurus ekonomi dan pendidikan anak-anaknya karena lebih sering disibukkan dengan urusan dengan KUA (kantor urusan agama), kalau tidak urusan perceraian, bisa jadi urusan menikah (lagi).

Para pakar pelet yang tidak dapat memanjemen dirinya sering kali hanya menghasilkan generasi yang tidak berkualitas. Oleh karena itulah, sebagian orangtua di Jawa (boleh jadi di wilayah lain) menempatkan pelet atau ilmu sejenisnya sebagai ilmu yang tidak direkomendasikan untuk dipelajari anak cucunya.

batu giok pengasihan

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!