Profil Paranormal lr.RMH Gembong Danudiningrat : Pakar Pengobatan Ilmu Kejawen

ilmu kejawen

Ingat acara dulu ” Serambi yang ditayangkan TPI, ingat pula nama Gembong. Acara yang konon dihentikan penayangannya akibat desakan dari kalangan tertentu itu menyiratkan betapa hal-hal yang bernuansakan mistik itu masih dianggap sesuatu yang patut diwaspadai.

Gembong, si peran utama pada acara itu menyadari sepenuhnya munculnya persepsi yang berbeda terhadap disiplin ilmu yang digelutinya. Apalagi disiplin itu merupakan ilmu yang mengkaji tentang hal-hal yang serba supranatural,. seperti keris, ramalan, kejawen, lengkap dengan pranata mangsa, santet juga tenaga dalam.

Ilmu Kejawen

Menurut Gembong, Ilmu Kejawen bukanlah ajaran perklenikan. Melainkan pelajaran tentang aturah tata perilaku hidup manusia menuju kesempurnaan, menuju kepada Yang Tunggal· yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Hanya cara Ilmu Kejawen itu berbeda dengan ajaran agama yang lain. “Kejawen dalam menuju kepada Tuhan caranya melalui. laku prihatir. seperti bertapa, kungkum, sesaji dan sebagainya.” tuturnya.

Ritual-ritual dan sesaji-sesaji itu menurut ajaran Ilmu Kejawen hanya merupakan filosofi yang mengandung petuah-petuah melalui perlambang sesaji. Dan di dalam ajaran Kejawen, terkandung ajaran-ajaran hubungan antara manusia dengan sesamanya yang didasari oleh tepa selira (Positive Thinking) dan harus selalu nerima dalam menghadapi hidup. Dalam hal ini adalah nerima aktif yang artinya tidak ngaya atau mengada-ada.

Diajarkan juga tentang sistem tata cara kerja seperti dalam arti filosofi “Alon-alon waton kelakon, tan kena kebat keliwat”, yang artinya dalam ajaran Ilmu Kejawen bahwa di dalam bekerja dibutuhkan ketelitian, kecermatan dan perhitungan yang matang serta pemahaman dari cara kerja itu sendiri. Dan hasilnya harus sempurna (tan kena kebat keliwat).

Menurutnya, hal ini yang sering dijadikan pihak-pihak tertentu yang belum mengenal ajaran Kejawen sebagai suatu titik kelemahan. Padahal ini merupakan suatu sistem kesempurnaan kerja.

Demikian pula dalam pelajaran-pelajaran pertanian. Kejawen mengajarkan ilmu “Pranata Mangsa” yaitu cara-cara bercocok tanam yang bersandarkan pada kondisi alam semesta. Misalnya pada saat-saat tertentu dalam peredaran tata surya, aktifitas-aktifitas bakteri dan serangga hama sedang berkembang namun dalam kondisi yang lemah, sementara predator bakteri dan serangga hama sedang aktif dan kuat, sehingga predator ini memangsa bakteri dan serangga hama tersebut.

Hasilnya, tanaman yang ditanam akan aman dari gangguan bakteri dan serangga hama. Kini, setelah “Pranata Mangsa “, tidak digunakan, hama kian berkembang dan berakibat buruk pada tanaman dan pertanian. Sehingga, menurut Gembong, ajaran “Pranata-Mangsa” ini seharusnya masih harus untuk dikembangkan.

Ramalan

Hampir setiap pergantian tahun (masehi) tradisi yang berlaku khususnya dilingkungan media cetak adalah menurunkan ramalan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Dan untuk urusan yang satu ini Gembong merupakan pilihan, sebagai narasumber untuk meramal.

Tapi bagaimana tanggapan Gembong tentang ramal-meramal itu ? “Meramal masa depan merupakan sesuatu yang tidak benar. Manusia hanya dapat membaca aktifitas alam yang akan terjadi karena kekuatan insting” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa insting itu menangkap gelombang-gelombang yang akan terjadi. Sedangkan untuk memperkuat atau mempertajam insting itu. Gembong melakukan laku spiritual terutama memperbanyak zikir dan sholat malam.

Menurut Gembong, kemampuan paranormal adalah suatu bakat yang bisa lebih berkembang apabila diasah dengan laku prihatin. Seperti yang dilakukan ayah tiga putra ini, sejak usia 6 tahun ia sudah melakukan laku prihatin seperti bertapa, puasa – tidak makan & minum, tidak tidur , jalan kaki, meditasi dan sebagainya.

Dalam ajaran Kejawen, menurut Gembong, tidak pernah diajarkan untuk menyembah berhala atau menyembah yang lainnya, kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baru setelah kedatangan VOC, ajaran Kejawen diadu domba sehingga orang menganggap Kejawen itu merupakan ajaran perklenikan.

Pandangan Tentang Keris, Sesaji & Tenaga Dalam

Pendapat Gembong tentang keris agak berbeda dengan paranormal pada umumnya. Menurutnya, keris bukanlah sesuatu yang gaib di mana kekuatannya disebabkan oleh roh-roh atau makhluk-makhluk di luar manusia. “Keris merupakan susunan logam yang dibuat dengan cara super canggih yang mengandung energi dan mengeluarkan gelombang-gelombang yang dapat memancarkan sinar-sinar kosmis” katanya.

Sedangkan tentang sesaji menurut Gembong adalah pelengkap yang memiliki unsur filosofi. Dan setiap sesaji yang dibuat memiliki lambang-lambang atau keyakinan, sebagai ungkapan terima kasih orang Jawa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menunjukkan, bentuk wujud sesaji itu sebagai bentuk kemantapan jiwa orang Jawa.

Sesaji merupakan rangkaian hidangan, hasil bumi atau tanaman terpilih mengandung petuah-petuah secara filosofis. Dalam pandangan psikolog, sesaji dianggap sebagai sesuatu yang memiliki aura, dimaksudkan agar aura-aura itu memiliki pengaruh positif terhadap manusia.

“Boleh saja kan kita membuat sesaji, asal ketika sesaji itu dibuat doa-doa permohonannya tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan kepada jin atau setan” katanya.

Selain dikenal sebagai paranormal, Gembong ternyata seorang pesilat. la juga mengajarkan tenaga dalam kepada anak-anaknya. Tapi, tenaga dalam menurut Gembong tidak dapat diraih hanya cukup berlatih satu – dua bulan. Karena tenaga dalam merupakan energi potensial yang digali dengan menggunakan energi kinetis dengan melakukan latihan pernapasan. “Jangan cukup puas berlatih satu-dua bulan, jika perlu satu-dua tahun, atau jika perlu, lima sampai sepuluh tahun” katanya.

Namun dalam mengajarkan tenaga dalam ini ajaran agama tidak boleh diabaikan. Hal ini, menurut Gembong, sebagai langkah pencegahan jangan sampai tenaga dalam yang telah dikuasai itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif.

Pengobatan Ilmiah

Sebagai paranormal, sudah tentu Gembong banyak didatangi berbagai pasien dengan beragam persoalan. Pada jam-jam praktek, pasien-pasien menunggu giliran dengan penuh kesabaran. “Mengintip” pasien-pasien Gembong, nampaknya, sebagian besar dari mereka adalah yang mengidap suatu penyakit.

Gembong yang melakukan komunikasi dengan pasien dengan cara menyentuh ujung jari-jari pasien, mengaku bahwa metoda yang dimanfaatkan adalah metoda batin plus jamu-jamu yang sudah dikapsulkan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, Gembong merasa bersyukur jika ternyata dirinya sering diajak bekerja sama dengan dokter-dokter di beberapa rumah sakit besar, baik di Jakarta, Surabaya dan kota-kota lain. Itu disebabkan metode yang digunakan sama sekali tidak bertentangan dengan medis maupun agama.

Pasien Gembong terdiri dari berbagai kalangan. Banyak dari kalangan menengah kebawah dan sebagian ada juga dari kalangan menengah-keatas. Pasang tarif ? Dalam mengobati saya lebih banyak tombok,” katanya sambil tertawa.

Ia menggunakan hukum berbalik. Dalam arti ia banyak menangani perusahaan-perusahaan besar tentu dengan imbalan besar pula maka wajar saja jika itu dikembalikan lagi untuk pasien. Dengan kata lain, Gembong dapatkan imbalan yang layak dari kalangan atas, selanjutnya ia kembalikan sebagiannya untuk kalangan bawah.

“Saya percaya, kemudahan rizki disebabkan doa dari pasien-pasien. Bahkan boleh jadi kekuatan spiritual saya pun berasal dari doa mereka” tutur Gembong. Gembong yakin sepenuhnya bahwa doa fakir miskin adalah sumber keberkahan. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari Gembong mengajarkan pada anak-anaknya untuk tidak membuat jarak dengan mereka. Ia menyontohkan, setiap ulang tahun anak-anaknya tidak boleh dirayakan dengan pesta. Bahkan untuk ulang tahun Gembong sendiri selalu “dirayakan” dengan sunatan masal.

Sebagai paranormal yang super sibuk ini Gembong mengaku tidak ada masalah dengan keluarga. Istrinya. Hj Anisah memaklumi profesi suaminya. “Istri saya seorang muslimah, hingga ia tahu benar bahwa menolong sesama adalah kewajiban,” katanya.

kristal anti santet

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!