Cinta Ditolak, Pelet Bertindak, Kisah Cinta Legenda Cirebon Baridin Suratminah

ilmu pelet kisah cinta baridin suratminah
Gambar Ilustrasi Baridin Suratmina

Di tanah Pasundan khususnya daerah sekitar Cirebon dikenal banyak menyimpan legenda ilmu pelet. Selain Ki Buyut Mangun Tapa dan Nini Pelet yang kisahnya kemudian diangkat ke layar lebar, dikenal juga cerita asmara “sampai mati” dari seorang Baridin yang dikisahkan terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Cerita yang dipopulerkan oleh maestro tarling Cirebonan, pimpinan H. Abdul Adjib ini melengenda di masyarakat. Dikisahkan, Baridin adalah anak seorang janda miskin asal Desa Jagapura, Gegesik, Cirebon.

Baridin jatuh cinta kepada seorang gadis yang dikenal tercantik di wilayah Cirebon bernama Suratminah. Gadis itu adalah putri tunggal duda kaya bernama Bapak Dam, seorang bandar gabah (padi) yang terkenal sangat kaya. Selain kaya, Bapak Dam juga dikenal sangat temperamental.


Baca Juga :


Ketika Mbok Wangsih (ibu Baridin) datang untuk melamar ke orangtua Suratminah, perempuan itu justru menerima penghinaan dengan kata-kata yang sangat pedas. Lamaran janda miskin itu dianggap Bapak Dam sebagai penghinaan terhadap statusnya sebagai keluarga terpandang. Mbok Wangsih pun dihina oleh Bapak Dam. Barang-barang yang dibawa saat melamar, di antaranya pisang muli (pisang emas), kendhi, dan tempayan, dirusak oleh sang tuan rumah.

Baridin Mempelajari Ilmu Pelet Untuk Memikat Suratminah

Mendengar berita itu, Baridin merasa sakit hati. Kemudian, ia belajar ilmu pelet “jaran goyang” kepada sahabat dekatnya bernama Gemblung. Untuk menguasai ilmu pelet itu, ia harus melakukan puasa ngebleng (tanpa buka sahur) selama 40 hari 40 malam. Bahkan, karena dendamnya atas perlakuan Bapak Dam terhadap ibunya, Baridin bersumpah tidak akan pernah ada makanan menyentuh tenggorokannya sebelum Suratminah gila akibat terkena peletnya.

Dengan laku tirakat itu, Baridin menginginkan Suratminah datang dan mengemis cintanya. Namun, hingga hari yang ke39, Baridin belum melihat tanda-tanda tirakatnya berhasil. Semula, ia hampir putus asa. Namun, ternyata, pada hari yang ke-40, Suratminah benar-benar mendatangi dirinya yang saat itu sedang di tengah sawah.

Anak petani miskin itu sudah telanjur sakit hati akibat penghinaan yang dilakukan oleh ayah Suratminah terhadap ibunya. Cinta yang pernah diharapkan itu sudah berubah menjadi dendam yang membara.

Ketika kedatangan Suratminah itu ditolak oleh Baridin, gadis itu berkata bahwa jika tidak dinikahi oleh Baridin, ia rela mati. Namun, Bapak Dam malu mengetahui anaknya mendatangi Baridin. Ia mengejar Suratminah dan menarik anaknya itu. Tiba-tiba, Suratminah terjatuh dan mati mendadak di depan Baridin. Melihat hal itu, Baridin menyesal, bahkan tak lama kemudian, ia pun ikut mati karena cintanya kepada Suratminah.

Ajian jaran goyang yang dipelajari oleh laki-laki itu hampir ada di setiap wilayah di Indonesia, tetapi tentunya dengan versi yang berbeda-beda. Ada ajian jaran guyang versi Cirebon, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Banyuwangi), dan Bali. Bahkan, tanah Papua pun mengenal ajian pelet ini. Setiap Ajian mantra dan tata lakunya berbeda walau tujuannya sarna, yaitu untuk memikat hati.

Ajian jaran goyang versi Cirebon (yang digunakan Baridin) aslinya memang harus disertai dengan melakukan puasa ngebleng selama 40 hari 40 malam. Tentunya, menurut ukuran zaman sekarang, hal itu merupakan sebuah ukuran menempa diri yang berlebihan. Namun, sebenarnya, jika reaksinya sudah kelihatan saat tirakat jaran goyang itu dilakukan, tirakat sudah boleh dihentikan meski belum genap 40 hari.

Pelajaran Yang Bisa Diambil

Dalam kisah Baridin, yang melakukan tirakat sampai 40 hari 40 malam, kalangan pinesepuh di Cirebon meyakini hal itu disebabkan alasan-alasan tertentu. Salah satu yang diyakini adalah pada hari ketujuh (seminggu setelah tirakat), sebenarnya Suratminah sudah terpengaruh oleh pelet yang dikirim oleh Baridin. Namun, saat itu Suratminah masih bertahan dengan rasa malu karena ia telah menolak Baridin dan juga mengingat statusnya sebagai anak orang terpandang.

Sebagai perempuan tercantik di wilayah Cirebon, tentunya logis jika berpikir seratus kali untuk mendatangi lelaki dari kalangan petani miskin yang sehari-hari menghabiskan waktunya di sawah. Nggak level, kata anak zaman sekarang. Namun, ketika Suratminah sudah tidak mampu menahan pelet yang sudah merasuk dalam jiwa raganya, ia pun tak mampu mengendalikan diri. Ia pun mencari Baridin. Namun, mereka tak bertemu. Pada saat bersamaan, Baridin menganggap tirakatnya belum berhasil sehingga ia bertekad meneruskan tirakatnya hingga mencapai hitungan 40 hari 40 malam. Sayangnya, pertemuan keduanya malah berujung dengan kematian di kedua belah pihak.

Masyarakat Cirebon dan sekitarnya, (bahkan, termasuk kita semua yang berada di luar wilayah tersebut) tentunya bisa mengambil hikmah kisah Baridin dan Suratminah tersebut. Salah satunya adalah jika terpaksa harus menolak cinta seorang lelaki yang tidak dicintai, sebaiknya perempuan atau keluarganya melakukan penolakan itu dengan cara yang halus.

Hindari perilaku yang menyebabkan ketersinggungan. Bentuk penolakan yang “kasar” dapat menimbulkan sakit hati sehingga orang yang ditolak cintanya tersebut dapat melampiaskan sakit hatinya melalui segala cara, termasuk dengan pelet atau cara mistis lainnya.

Cerita ini dikutip dari Buku : Rahasia Pelet karya, A. Masruri

garam pangruwat

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!