Profil Paranormal : Imam Suroso Sang Ahli Pagar Gaib

imam suroso

Imam Suroso Sang Ahli Pagar Gaib

Ibarat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Manusia sering mewarisi bakat dari leluhurnya seiring dengan pergantian generasi. Itu pula yang dialami Imam Suroso asal Pati, Jawa Tengah, yang juga staf Polwil Pati.

Ketertarikan Imam Suroso terhadap dunia perdukunan berawal dari lingkungan keluarga. Kakeknya, seorang dukun terkenal di daerah Pati, menjelang akhir hidupnya banyak mewariskan ilmu-ilmu kepada Imam Suroso, mulai dari jenis tirakat yang ringan sampai pada tingkat yang paling berat.

Dan hampir sebagian besar dari yang diwariskan itu merupakan ilmu yang memiliki manfaat untuk menolong sesama, terutama dalam bidang pengobatan penyakit. Pendek kata, menurut Imam Suroso, kakeknya sudah melihat ada tanda-tanda bakat pada dirinya bahwa kelak akan menjadi seorang penyembuh.

Kenyataan itu terbukti, ketika sang kakek itu menghadapi kesulitan dalam sekaratul maut disebabkan oleh efek ilmu panjang umurnya. Imam Suroso yang kala itu baru kelas dua SLTP memanfaatkan ilmunya. Ia bacakan “kidung” yang bait-baitnya berbahasa Jawa (Kawi) pada telinga kakeknya.

Hasilnya, sang kakek pun bisa menghadap Tuhan dengan tenang. Padahal sebelumnya segala jenis upaya, mulai dari mendatangkan paranormal sampai upacara-upacara ritual, tak membuahkan hasil. Dengan kata lain, sang kakek “tertolong” oleh ilmunya warisannya. Sedangkan bagi Imam Suroso, kejadian itu merupakan “batu loncatan” untuk menekuni sekaligus mengamalkan ilmu-ilmu yang telah dikuasainya.

Praktis, dalam usia yang masih terlalu muda, Imam Suroso sudah sering dimintai tolong tetangga-tetangganya, mulai dari kasus pengobatan sampai kasus-kasus lain yang berkaitan dengan hajat hidup banyak orang.

Gemar Tirakat

Kegiatan menekuni dunia perdukunan, bagi Imam Suroso, bukan berarti harus meninggalkan tugasnya sebagai pelajar. Ia mengaku bisa membagi waktu dengan baik antara tugas belajar dan tirakat. Setamat SMA, dia melanjutkan studi pada program 02 IKIP Negeri Semarang dan lulus tahun 1986.

Sempat mengajar di SMP Negeri Kayen, Pati, selama 18 bulan. Karena gaji sebagai guru dinilai terlalu minim, ia mencoba mendaftar sebagai polisi. “Alhamdulillah, melalui laku prihatin saya diterima,” tuturnya dengan kalem.

Dan setelah menjadi polisi, kegiatan mengasah batin itu tetap saja dilakukan, karena ia menganggap bahwa kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan, baik sebagai lelaki Jawa maupun sebagai orang yang tertarik untuk bisa membantu sesamanya.


Baca Juga : 


Imam Suroso mengaku banyak silaturahmi ke beberapa “orang tua”, mulai dari yang berprofesi sebagai dukun sampai pada para kiai dan ahli hikmah. Semua itu dia jalankan untuk menambah wawasan kerohaniannya. Bahkan, ia juga terlibat dalam latihan pernapasan tenaga dalam beraliran asmaul husna. “

Semua ilmu, sepanjang pijakannya pada kekuasaan Tuhan, memiliki manfaat yang positif. Walaupun berbeda latar belakang, tidak ada salahnya untuk dipadukan,” tuturnya.

Dijelaskannya bahwa perbedaan ilmu-ilmu yang sempat ia pelajari, hanya pada bahasanya. Arahnya sama, yaitu mohon kepada Tuhan. Karena itu, Imam Suroso dalam kesehariannya memadukan berbagai versi di dalam “menggarap” tamu-tamunya.

Banyak Belajar Dari Paranormal Lain

Kepiawian Imam Suroso dalam dunia perdukunan bertambah ketika suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang diisukan sebagai penyebar aliran hitam. Kejadian itu diawali ketika suatu hari ia harus menjalankan tugas kepolisian guna mengintrogasi suatu perguruan.

Tetapi dari hasil introgasi dengan sang Guru Besar, Imam Suroso yang paham betul seluk-beluk perdukunan, tidak melihat adanya penyelewengan pada aliran itu, walau sebagian dari metodenya ada yang terkesan kontroverial, seperti menyepi pada tempat wingit, berlatih pernapasan pada kuburan keramat, yang oleh masyarakat diidentikkan dengan memuja kuburan.

Buntut dari pertemuan dengan sang Guru Besar aliran itu, Imam Suroso justru tertarik untuk bergabung pada aliran Senggoro Pati pimpinan Edy Rusmanto yang akrab dipanggil Bos Edy. (baca profile Bos Edy)

“Saya masuk untuk dua tujuan, yaitu ingin mendalami dunia perdukunan lebih dalam lagi, sekaligus ingin membuktikan benarkah aliran itu sebagai aliran hitam sebagaimana diisukan oleh masyarakat,” katanya.

Apa yang didapatkannya pada aliran Senggoro Pati ? Imam Suroso menjelaskan bahwa banyak hal baru yang ia dapatkan. Terutama menyibak alam gaib. Melalui metode tertentu, Imam Suroso mampu berkomunikasi dengan arwah leluhurnya yang bisa memberikan petunjuk-petunjuk tentang sesuatu yang samar untuk menjadi terang.

Seperti ketika ada suatu kehilangan di lingkungan keluarganya, karena terjadi saling tuduh, maka kesempatan itu ia gunakan untuk membuktikan ilmunya. Caranya, ia ajak istrinya, Dra. Suhartini, untuk mengunjungi makam keramat.

Selanjutnya ia panggil arwah itu untuk masuk pada jasatnya. Dalam keadaan in trance (tak sadar) ada “pihak” lain yang berbicara melalui mulutnya. Memberikan informasi tentang siapa pelaku pencurian itu serta letak barang buktinya.

Seluruh informasi dicatat oleh istrinya. Maka, begitu Imam Suroso tersadar dari proses in trance itu, nama tertuduh sudah berada di sakunya. Selanjutnya ia lakukan penyelidikan dan ternyata benar.

Keberhasilan itu, bagi Imam Suroso, bukan berarti ia berniat untuk memanfaatkan metodenya guna tugas-tugas penyelidikan dalam kepolisian. “Antara metode mistik dan kepolisian bertolak belakang, sisi mistik berdasarkan pada informasi alam bawah sadar, sementara kepolisian di dalam penyelidikan berdasarkan pada barang bukti,” katanya.

Karena itu, penggunaan metode tersebut bagi Imam Suroso hanya diberlakukan di lingkungan keluarga, jika ada kasus-kasus yang mendesak. Memaksakan untuk memanfaatkan metode mistik, baginya, justru mengandung risiko di praperadilankan.

Keahlian Pasang Susuk

Keahlian lain yang dimiliki Serka Imam Suroso ini adalah memasang susuk. Tidak tanggung-tanggung. Jika pada umuinnya siswa dari Sanggar Senggoro Pati cukup puas hanya dengan tirakat sekali, Imam Suroso menjalaninya berkali-kali. “Agar lebih mantep,” tuturnya.

Dan karena keahlian itu pula ia mengaku banyak teman. Tetapi ketika ditanya apakah banyak polwan yang meminta jasa pemasangan itu, Imam Suroso hanya tersenyum. “Wah, kalau untuk yang ini, rahasia dong,” katanya.

Benarkah susuk Imam Suroso terbukti ampuh? Wallahu A’lam. Tetapi ia menyimpan kisah lucu di sekitar persusukan, yaitu ketika ia menaksir wanita yang sekarang menjadi istrinya karena dirasa banyak saingan, Imam Suroso lalu memasangi bagian wajah sendiri.

Terbukti, Suhartini yang semula kurang memperhatikannya, tiba-tiba menunjukkan sikap simpatik. “Di luar fungsi susuk, mungkin Tuhan sudah menggariskan dia menjadi istri saya,” tuturnya.

Ilmu Pagar Gaib

Selain mengembangkan masalah ilmu persusukan, Imam Suroso juga menekuni bidang mistik yang identik dengan tugas kepolisiannya. Yaitu melalui metode batin, ia mampu memagari suatu pekarangan rumah, kantor, atau perusahaan- dari gangguan tangan-tangan jahil. Atau yang sering disebut dengan ilmu pagar gaib.

Suatu pekarangan yang sudah dipagari konon akan terhindar dari segala niat buruk. Tidak hanya gangguan yang berasal dari manusia, gangguan dari makhluk halus pun akan sirna. Dan ketika ditanyakan bagaimana reaksi dari seseorang yang memaksakan diri memasuki radius “pagar gaib” itu dengan membawa niat jahatnya?

“lnsya Allah niat jahat itu akan urung, bisa juga pelakunya hanya berputar-putar di sekitar lokasi, atau jika niat jahatnya benar-benar besar, ia bisa bertingkah laku aneh,” katanya.

Tingkah laku aneh itu bisa diwujudkan seperti berenang di air, atau terserang kantuk yang luar biasa, sehingga tertidur atau tingkah-tingkah lain yang semuanya menuju pada bentuk pertolongan Tuhan untuk menggagalkan niat jahat itu.

Dijelaskannya, timbulnya gerak-gerak tidak wajar itu pada hakikinya berasal dari rasa bingung yang menyerang pikirannya. Dalam kondisi demikian, seseorang akan terpengaruh oleh halusinasi, baik yang timbul dari “kekuatan” yang dipasang oleh pemasangnya (paranormal) maupun dari apa yang dilihatnya.

Misalnya, melihat comberan air saja dalam benaknya berubah menjadi terjangan ombak. Melihat goyangan daun saja, bisa berubah sosok seekor harimau yang siap menerkam.

“Ilmu batin cenderung menyerang hati dan pikiran orang yang berniat jahat,” kata Imam Suroso. Dan karena keahlian itu, ia sering didatangi orang-orang yang berniat mencari siker pekarangan. Bahkan, ketika maraknya perampokan terhadap sarang burung walet dan tambak, Mas Imam panggilan akrabnya-juga menerima banyak “order”.

Dalam mengerjakan siker yang paling awal ia lakukan adalah melakukan salat sunah 2 rakaat. Bermohon kepada Tuhan agar pemanfaatan ilmu yang dipelajarinya diberi keampuhan dari rida-Nya. Metodenya cukup sederhana. Ada yang cukup hanya diketahui alamat lokasinya atau ada yang cukup ditanami barang yang telah di asmak atau diisi dengan getaran gaib.

Konon, dari benda itu akan memancar suatu nur gaib (aura) yang setiap saat akan bereaksi manakala suatu pekarangan dimasuki oleh seseorang yang berniat jahat. Cara kerjanya secara otomatis, begitu ada getaran jahat, maka nur gaib itu akan memukulnya.

Untuk memiliki kekuatan pemagaran itu, Imam Suroso mengaku membutuhkan tirakat secara khusus. Selain berat, hal itu ia jalankan berkali-kali. “Bagi saya, ilmu tidak perlu banyak. Sedikit tetapi ditekuni, akan lebih baik.”

Maka, selain keahlian-keahlian lain seperti pasang susuk, pengobatan, Imam Suroso tampaknya lebih tertarik untuk menekuni bidang itu untuk dijadikan spesialisasinya di dalam keparanormalan.

Namun, Imam Suroso mengatakan bahwa suatu pekarangan yang sudah dipagar secara gaib bukan berarti tidak perlu lagi diikhtiari secara fisik. Ikhtiar harus lahir-batin. Karena itu, penjagaan petugas, baik, polisi, satpam, maupun siskamling, masih amat dibutuhkan di samping “penjagaan” yang bersifat gaib.

Khusus untuk menjaga dari teror makhluk halus, Imam Suroso memiliki metode yang efektif. Yaitu bagaimana agar makhluk halus itu bisa pergi dengan rela, tidak emosi. Sebab banyak juga metode mengusir makhluk halus yang memilik efek, yaitu di tempat lain lokasi baru justru membuat onar lagi. “

Dibutuhkan semacam kolusi, mereka juga perlu diberi hadiah sesuatu yang disukai, seperti uba rampe tulang babi,” tutur Imam Suroso.

Walaupun bagian dari anggota tubuh babi itu diyakini sebagai barang najis, namun baginya yang penting, makhluk halus itu tidak lagi mengganggu. “Apa saja harus saya lakukan. Sepanjang masalahnya hanya najis, toh itu bisa dicuci. Tetapi menolong sesama, menurutnya, adalah suatu kewajiban” katanya. Bukan hanya sebagai aparat yang harus mengayomi masyarakat, melainkan Imam Suroso menyadari benar bahwa manusia yang baik adalah manusia yang memiliki manfaat bagi kehidupan manusia lain.

batu giok pengasihan

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!