Kisah Calon Arang, Pelaku Ilmu Santet Yang Menggegerkan Kerajaan Kediri

ilmu santet kisah calon arang

Ilmu Santet Calon Arang Yang Menggegerkan Kerajaan Kediri.

Salah satu fenomena metafisis yang kemudian diidentikkan sebagai ilmu santet yang terkenal karena “terpublikasikan” dalam sejarah kerajaan adalah kisah Calon Arang. Calon Arang adalah seorang janda sakti yang pernah menggegerkan Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Raja Erlangga. Dia tinggal di Desa Girah bersama anak gadisnya yang bernama Ratna Manggali. Penduduk takut terhadap kesaktian Calon Arang, sehingga tidak ada lelaki yang berani melamar putrinya. Oleh karena itu, Calong Arang marah, lalu menebar musibah di tanah Kediri.

Melalui ritualnya di sebuah kuburan, turunlah Dewi Bhagawati atau Dewi Durga yang mengabulkan permohonan Calon Arang. Maka, wabah pun menyebar dan menyebabkan banyak orang yang pada pagi hari sakit, sorenya tewas, atau pada sore hari sakit, pagi harinya meninggal.

ilmu santet calon arangMelihat banyak korban berjatuhan, Raja Erlangga berupaya mencari solusi untuk mengatasi wabah tersebut, sekaligus mencari tahu penyebabnya. Setelah mengetahui bahwa wabah itu karena ulah Calon Arang, dikirimkanlah pasukan ke Desa Girah untuk membunuh Calon Arang.

Namun, si janda bengis itu terlalu sakti untuk dikalahkan. Penyerangan yang dilakukan oleh tentara kerajaan ternyata tidak mampu menyurutkan Calon Arang menghentikan santetnya. Sebaliknya, dia semakin marah dan semakin kuat menyebarkan santetnya sehingga korban pun semakin bertambah.


Baca Juga :


Raja Erlangga berupaya mengatasi penyakit misterius itu. Para pendeta dan resi selalu berdoa di istana hingga akhirnya turunlah petunjuk bahwa yang dapat mengakhiri wabah itu hanya Mpu Bharadah dari Desa Lemah Tulis. Erlangga kemudian mengirim utusan untuk menghadap Mpu Bharadah. Untuk meredam kemarahan Calon Arang, Mpu Bharadah mengutus muridnya yang bernama Bahula untuk menikahi Ratna Manggali.

Tugas sang menantu selain meredam kemarahan mertuanya juga menjadi mata-mata bagi kepentingan kerajaan.

Setelah menikah dan tinggal di kediaman mertuanya, Bahula tahu bahwa kesaktian mertuanya itu karena sebuah kitab yang setiap malam dibaca saat Calon Arang melakukan upacara di kuburan. Bahula segera menemui gurunya sambi! membawa kitab itu dan menceriterakan kebiasaan mertuanya.

Dan setelah menyerahkan bukti dan data inteljen, Mpu Bharadah meminta Bahula segera kembali ke Desa Girah sebelum Calon Arang Mengetahui bahwa dia bersedia menjadi menantu karena sebuah misi mencari kelemahannya. Mpu Bharadah kemudian menyusul ke Desa Girah. Dalam perjalanan, Mpu Bharadah menyembuhkan banyak orang yang sakit dan menghidupkan kembali yang mayat yang jasatnya masih utuh.

Di kuburan Desa Girah bertemulah Mpu Bharadah dengan Calon Arang. Mpu Bharadah memperingatkan agar Calon Arang menghentikan santetnya. Calon Arang bersedia menuruti nasihat itu asalkan dia diruwat untuk melebur dosa-dosanya. Mpu Bharadah menolak meruwatnya karena dosa Calon Arang dalam melakukan ilmu santet dianggap sudah terlalu besar.

Akhirnya terjadi pertempuran antara Calon Arang dan Mpu Bharadah. Calon Arang berusaha membunuh Mpu Bharadah dengan menyemburkan api yang memancar dari matanya. Namun, ternyata Mpu Bharadah lebih sakti. Dalam perang tanding itu Calon Arang mati dalam posisi berdiri.

Selanjutnya Mpu Bharadah menghidupkan kembali Calon Arang untuk diberi ajaran tentang kebenaran hidup agar kelak bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta bersedia mengajarkan jalan ke surga. Setelah selesai mempelajari ajaran-ajaran kebajikan, Calon Arang dimatikan lagi, kemudian mayatnya dibakar.

Kisah Calon Arang versus Mpu Bharadah ini menjadikan stigma bahwa pelaku ilmu santet selalu berhadapan dengan rohaniawan. Artinya, “aliran putih” (kebenaran) berhadapan dengan “aliran hitam” (kebatilan).

Cerita ini dikutip dari Buku : Rahasia Pelet karya, A. Masruri

jimat pelarisan

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!