Kisah Nyata Pengguna Pelet Ini Bercerita Tentang Pengalamannya

Sebagian besar dari kita melihat Pelet dengan pandangan curiga karena diidentikkan dengan ilmu hitam. Menurut saya, pendapat itu tidak selamanya benar. Saya malah pernah tertolong rumah tangga saya karena saya menggunakan jasa dukun pelet.

Awalnya, ketika suami saya yang lebih muda lima tahun tertarik wanita lain yang usianya lebih muda sepuluh tahun dari usia saya, maka saya pun perlu menggunakan jasa dukun pelet. Walau saya berasal dari keluarga yang fanatik dalam beragama dan menjaga jarak dengan dunia perdukunan, kondisi terdesak mengharuskan saya untuk meyakini bahwa semua keistimewaan yang ada pada manusia (dukun) asalnya pun dari kuasa Allah SWT.

Sehingga, jika saya mendatangi dukun ahli pelet, saya memosisikan diri sebagai orang yang mendatangi seseorang yang diberi keistimewaan dari Allah SWT atas hasil jerih payahnya dalam bertirakat. Apalagi, seperti kata agama, Allah itu bersifat Rahman (Pengasih) kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Pilihan Menggunakan Pelet

Disaat suami tergila-gila dengan perempuan lain itu, saya sudah memiliki tiga anak darinya. Dan disamping memohon langsung melalui sholat hajat, saya mendatangi mbah Siri, imam sebuah langgar (surau) yang juga dukun.

Dari mbah Siri saya ditawari untuk memilih berbagai pilihan. Diantaranya, kesadaran suami saya hingga akhirnya kembali ke rumah, namun juga boleh sekaligus ngerjain wanita yang menggoda suami saya. Mendapat tawaran demikian saya pilih keduanya. Yaitu, ingin suami sadar dan merawat anak-anak lagi, sekaligus memberi pelajaran pada saingan saya.

Anda ingin mengetahui bentuk pelajaran itu? Oleh mbah Siri saya diberi janji bahwa suami saya setiap kali hendak mendekati wanita itu akan timbul perasaan jijik. Soal bentuk jijiknya itu tak dijelaskan, karena itu langsung Gusti Allah yang menentukan.

Tak lama kemudian, pada waktu Subuh, suami saya mengetuk pintu sambil menggendong pakaian-pakaiannya. Dan saya pun menerimanya dengan sikap terbuka. Setelah sadar, suami saya menceritakan bahwa ia gagal menikah dengan wanita yang lebih muda darinya karena setiap kali melihat calon istri mudanya seperti nampak ada cacing besar meronta-ronta pada jidatnya.

Saya jadi ingat dengan janji mbah Siri bahwa ia akan memohon kepada Allah untuk hal itu. Karenanya, walau saya hidup dari lingkungan agama yang kuat, saya tidak pemah bersikap apriori dengan profesi dukun, sepanjang mereka memanfaatkan ilmunya untuk menolong orang yang sedang kesulitan.

Saat ini untuk tujuan ketentraman rumah tangga, saya mengamalkan suatu doa (wirid) yang saya peroleh dari mbah Siri dengan tujuan untuk melindungi keluarga jangan sampai ada “kekuatan” dari pihak lain yang masuk. Karena, saya dengar, disamping dukun ilmu putih (penyembuhan) ada juga dukun yang kerjanya bikin orang lain sakit dengan ilmu yang dikuasainya.

Dalam satu hari satu malam saya membaca La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliy-yil adziim, seratus kali. Kata mbah Siri, ini untuk ketentraman dan keamanan seluruh keluarga semua. Untuk ketentraman keluarga, saya pun mulai ajarkan pada anak-anak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyuruh mereka tahajud malam.

Bahkan bagi yang sudah akil balig, mereka saya sarankan melakukan puasa sunnah Senin-Kamis, karena saya yakin benar bahwa dengan menjalankan sunnah, maka Allah akan meridhai dan mempermudah urusan dunia akhirat. Sebagai keluarga yang dilahirkan dalam budaya Jawa namun kuat dalam memegang agama, laku prihatin berupa puasa Senin-Kamis adalah suatu keharusan dimana batin yang terus dibimbing dan diasah menjadikan kuat.

Kekuatan batin dibutuhkan bukan untuk menghindar dari ujian-ujian Allah SWT, melainkan diposisikan sebagai sarana untuk memperkuat diri agar tabah dengan ujian itu. Jadi, bukan berarti kita ingin terhindar dari ujian, melainkan lebih menyukai kuat dan lulus dari ujian. Anak perempuan saya yang kini sudah kuliah pernah terang-terangan dipelet oleh rekan kuliahnya. Ini saya ketahui dari rekannya yang diajak mendatangi dukun pelet di daerah Tulungagung.

Awalnya pelet itu ia rasakan. Ditandai dengan sering melamun, sering bermimpi yang tidak lazim. Namun karena secara batin, kami dan juga anak itu membentengi diri, pelet itu menjadi luntur. Saya percaya pelet itu ada dan dapat bereaksi. Namun jika ada ilmu untuk “memukul” tentu ada ilmu untuk “memangkis”.

Cerita diatas dikutip dari Buku “Keajaiban Ilmu Pelet” oleh Imam Suroso.

 

garam pangruwat

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!