Memahami Makna Kualat & Apa Yang Harus Dilakukan Jika Seseorang Kualat

Benarkah kualat itu memang ada, dan apa yang harus dilakukan bagi seseorang yang kualat?

Kualat adalah kesengsaraan akibat kezaliman yang dilakukan pada masa yang lalu. Umpamanya, Anda kurang ajar dengan orang tua, kemudian orang tua itu sampai mengucapkan sumpah serapahnya dan sumpah serapah itu benar-benar terbukti pada waktu mendatang.

Kisah tentang Si Malim Kundang yang tenggelam ditelan lautan karena menyia-nyiakan ibu kandungnya, juga kisah Alqamah, Sahabat Nabi SAW yang kesulitan menghadapi ajal, juga karena menyia-nyiakan ibu kandungnya, adalah sebagian contoh dari kualat itu.

Kualat itu bisa diidentikkan dengan hukum pembalasan (karma) yang terjadi karena faktor keadilan Allah SWT. Tetapi, kualat ini tidak berlaku secara umum. Namun saya akui, sebagian besar dari perbuatan yang dilakukan manusia di dunia ini, akibatnya sudah bisa dirasakan sebelum ajalnya. Dan hanya sebagian kecil orang yang terbebas dari perbuatan dzalimnya, dan kita percaya, Allah akan melunasinya di akhirat.

jimat pelarisan

Kualat dalam istilah Jawa disebut ngunduh wohing pakarti. Artinya, memanen buah perilaku. Bahwa seseorang itu berbuat baik atau buruk akan kembali pada diri sendiri sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Kahfi : 10. “Dan apa saja yang terjadi atas dirimu, adalah akibat perbuatan tanganmu sendiri. Juga dalam Surat Al-Isra’ : 7, “Jikalau kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu, Jika kamu berbuat jahat, kerugianlah untuk dirimu sendiri”.

Dalam hadis juga ada disebutkan bahwa ada dua hal yang balasannya langsung dibayar di dunia ini, yaitu durhaka kepada orang tua dan berlaku yang sewenang-wenang. Sebagai bukti, kita bisa melihat, apa yang dialami seseorang yang durhaka kepada orang tua (terutama Ibu kandung).

Kualat pada umumnya terjadi antara anak dan orang tua. Namun terkadang ada juga orang tua yang kualat dengan anaknya. Semisal, orang tua yang menyia-nyiakan anaknya pada usia kanak-kanak, boleh jadi si anak itu tidak menyayangi orang tuanya setelah ia dewasa.

Pengertian kualat ini semestinya berlaku umum (universal). Siapapun dia, asal bertindak sewenang-wenang, maka ia akan merasakan buah dari kesewenang-wenangannya. Itu artinya, ada guru yang kualat dengan murid, jika guru itu bertindak sewenang-wenang. Ada murid kualat dengan gurunya, jika murid itu bertindak sewenang-wenang.

Bisakah Kualat Dihilangkan?

Kualat lebih berlaku untuk urusan manusia antar manusia (hablum minan nas). Karena itu, jika seseorang merasa hidup sengsara karena buah perbuatan dzalimnya kepada seseorang, hendaknya datang untuk memohon maaf. Dan jika hal itu terjadi karena urusan hak yang dirampas, berupayalah untuk menyelesaikannya.

Secara adat ada upacara untuk melarutkan kualat itu. Umpamanya, seorang anak yang merasa kualat pada orang tuanya lalu diadakan upacara mencuci telapak kaki orang tua kemudian air bekas cucian itu diminum oleh anaknya.

Adat seperti ini boleh-boleh saja dilakukan sepanjang maksudnya positif. Menurut saya, yang lebih penting dari sekedar upacara adalah memahami makna sebuah ritual atau upacara itu. Yaitu memohon maaf dengan lisan dan berupaya untuk tidak membuat kesalahan serupa pada masa yang akan datang.

Orang yang kualat, selain harus meminta maaf dengan orang yang didzalimi juga disarankan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Caranya bisa dengan memperbanyak beristighfar atau melakukan salat sunnah taubah. Dan dalam hati ia harus berjanji dengan sungguh-sungguh untuk hidup lebih hati-hati dan menjaga diri untuk tidak merampas hak orang lain.

bulu perindu sukma

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!