Membantu Menangkap Pelaku Kejahatan Dengan Ilmu Gaib

Imam Suroso S, Sos Paranormal yang juga anggota Kepolisian menuturkan pengalaman uniknya. Ketika ada keluarganya kehilangan sejumlah uang, mbah Suro panggilan akrabnya, mencoba mengungkap kasus pencurian itu dengan metode ilmu gaib.

Caranya ia ajak istrinya mendatangi punden (kuburan leluhur/orang sakti, biasanya) lalu mbah Suro menarik getaran ilmu khodam leluhumya. Ketika mengalami in trance atau kesurupan itu, istrinya disuruh bertanya siapa yang mengambil uang.

Dialog antara istri mbah Suro dengan mbah Suro yang kesurupan itu dicatat pada lembaran kertas mulai dari nama pelaku dan dikemanakan uang itu. Maka dalam waktu singkat nama pelaku sudah tercatat. Selanjutnya mbah Suro mengintrogasi tertuduh yang akhirnya mengakui perbuatannya.

Nah, apakah mbah Suro juga sering memanfaatkan ilmu paranormalnya untuk tugas-tugas kepolisiannya? Ternyata tidak. Ia mengaku ada perbedaan yang mendasar antara metode batin dengan penyelidikan versi hukum.

“Kalau saya menuduh tanpa bukti-bukti bisa dipraperadilankan,” katanya. Namun demikian mbah Suro menilai positif jika ada kejasama antara kepolisian dengan paranormal yang benar-benar memiliki ilmu yang profesional.

Yang ia khawatirkan jika upaya pengungkapan kasus itu salah arah. Artinya, petugas datang kepada paranormal yang ngawur (asal ngomong) “Tetapi saya yakin, petugas bisa memilih ke mana ia harus memilih,” tuturya lebih lanjut.

Mbah Suro yang tinggal di JI. Diponegoro 5 Pati, ini membandingkan antara paranormal Indonesia dengan Amerika. Di Amerika, petugas yang memiliki kemampuan paranormal biasanya menempati pos yang strategis, sedangkan di Indonesia petugas yang paranormal dianggap hal yang biasa-biasa saja.

Mbah Suro menjelaskan bahwa jalinan kerja sama antara aparat dengan paranormal bersifat sembunyi-sembunyi. Padahal, menurut mbah Suro, idealnya setiap Polsek memiliki anggota yang memiliki kemampuan paranormal yang berasal dari orang dalam.

Mengapa? “Kalau menggunakan paranormal dari luar dikhawatirkan mereka tidak bisa menjaga rahasia ,” ka ta mbah Suro. Padahal tugas dari paranormal itu umumnya untuk kasus-kasus yang peka.

Mbah Suro menjelaskan, beberapa kali ia memanfaatkan ilmu keparanormalannya untuk menunjang tugas-tugas kepolisiannya. Seperti meredam kerusuhan di Kragan perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur bahkan hal-hal yang bersifat pribadi, di luar wewenangnya sebagai polisi pun sering kali dilakukan, terutama menghadapi rekan sejawatnya para Polwan yang ingin pasang susuk.

Namun menurut mbah Suro kemampuan yang ada pada pribadi seorang paranormal tidak ada salahnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Seperti mengungkap kasus rumit, misalnya. Namun demikian ia wanti-wanti untuk tidak langsung menelan apa adanya, tanda-tanda (isarah) yang diterima paranormal.

“Paranormal terkadang hanya mampu menangkap petunjuk dalam bahasa sasmita atau kiasan,” katanya. Ia menyontohkan, ketika seorang buronan diditeksi secara batin, mbah Suro mendapat wisik (bisikan) bahwa buron itu sudah pulang.

Ternyata arti kalimat pulang itu tidak persis sebagaimana pengertiannya. Yaitu, ia menganggap buron yang dicari sudah pulang ke rumah, ternyata buron itu pulang ke rahmatullah (meninggal) karena berupaya melawan petugas hingga akhirnya di tembak di luar kota.

jimat keris semar kuning

Menurut mbah Suro, ketepatan seorang paranormal memprediksi dipengaruhi faktor batinnya. Artinya, semakin bersih batin itu, makin kuat dan jelas wisik-wisik yang diterimanya. Sebaliknya, jika batin paranormal itu sedang kacau, boleh jadi wisik-wisik yang diterimanya justru berbalik atau berlawanan.

Nah, lantas dimana nilai sebuah informasi dari paranormal? Mbah Suro menjelaskan bahwa informasi walau hanya sedikit yang keluar dari ucapan paranormal yang sedang fresh (segar) fisik dan rohaninya bisa dikembangkan secara rasional.

Dalam hal ini ada dua hal yang bisa dikembangkan. Pertama masalah sidik jari dan yang kedua masalah alibi. Dua hal ini yang menentukan apakah seorang petugas meneruskan mengembangkan informasi dari paranormal atau bahkan menghentikannya.

Mbah Suro menyontohkan. Jika paranormal menyebut si A sebagai pelaku pembunuhan, namun jika si A itu memiliki alibi yang kuat berada di luar lokasi TKP maka penyelidikan bisa meningkat pada penyocokan sidik jari.

Yang terakhir ini lebih banyak membawa hasil apakah petunjuk paranormal itu menunjang pengungkapan kasus atau mungkin meleset. ”Bagaimanapun, paranormal itu manusia biasa sehingga sesekali pun boleh salah atau meleset dalam menerjemahkan tanda-tanda yang diberikan Tuhan,” tuturnya.

Mbah Suro menjelaskan ada berbagai cara bisa dilakukan dalam mengungkap suatu kasus. Pertama, pihak yang dirugikan (korban atau keluarga korban) harus memperbanyak prihatin bisa dengan tirakat, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan terutama banyak berdoa pada malam hari.

Sedangkan cara memanfaatkan makhluk halus, yang biasa dimanfaatkan iman adalah melakukan komunikasi dengan penunggu tempat kejadian perkara (TKP). Mbah Suro menjelaskan bahwa makhluk halus memiliki pandangan yang jauh lebih tajam dibanding mata manusia awam.

Sifat makhluk gaib yang mampu melihat manusia tanpa manusia itu mampu melihatnya boleh jadi ia sedang nongkrong di lokasi tempat manusia melakukan pembunuhan yang oleh pelaku itu dianggap sudah tidak nampak oleh mata selain dirinya.

Sedangkan cara yang ketiga, melalui ilmu tertentu pelaku kejahatan itu bisa dipengaruhi dengan Aji Puter Giling atau Ajian yang lain sehingga pikirannya menjadi kacau. Dalam kondisi tidak normal itu pelaku kejahatan bisa berbicara di luar sadar atau bahkan menyerahkan diri ke kantor Polisi.

 

bulu perindu sukma

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!