Menelisik Sisi Ilmiah Dari Ilmu Pelet

pelet dalam ranah ilmiah

Sebagian kalangan tidak meyakini bahwa kekuatan seperti pelet ini melibatkan unsur metafisik. Melalui teknik membangkitkan alam bawah sadar, seseorang dapat mengakses energi yang sudah “betebaran” di alam semesta ini. Secara pribadi, saya menganalisis bahwa konsep kalangan modernis ini adalah penjabaran dari pengamatan mereka terhadap konsep lama yang sudah ada dan dilakukan orangorang tradisional.

Mereka mencoba menjabarkan melalui bahasa yang (mungkin) lebih ilmiah agar dapat diterima secara universal. Alam bawah sadar identik dengan apa yang disebut “aku batin”, yaitu sumber dari kekuatan adi kodrati yang ada dalam jiwa dan tubuh man usia. Untuk membangkitkannya, dibutuhkan minimum tiga dari tujuh konsep di bawah ini.

1. Menerima Ide Tanpa Kritik

Ide yang dimaksud di sini disampaikan oleh figur yang memiliki otoritas. Dalam hal ini, ilmu atau saran dari orang pintar akan sangat mudah memengaruhi pikiran bawah sadar seseorang sehingga orang tersebut memiliki keyakinan penuh bahwa konsep-konsep yang diberikan dapat membangkitkan karismanya.

Dalam banyak kasus kita temui, seseorang yang membaca suatu mantra atau amalan tertentu-walau secara teks salah-dan ia yakin dengan apa yang diberikan figur yang dipercayainya, mantra tersebut akan mampu menghasilkan kekuatam magis. “Keajaiban” juga dapat muncul ketika seseorang sedang terprovokasi oleh nama besar seorang tokoh yang diyakini memiliki kesaktian.

2. Repitisi/”Pengulangan”

Hal ini terkait dengan konsep ilmu yang pembangkitan energi melalui amalan (doa, wirid). Oleh karena itu, teknik repetisi atau pengulangan yang disertai dengan autosugesti dan afirmasi sangat menentukan. Dalam kajian ilmu hikmah, teknik repetisi adalah konsep “menabung” energi.

Dengan terus berdoa pada saat tidak ada masalah atau keperluan, doa itu akan menjadi tabungan energi yang suatu saat dapat bereaksi secara otomatis pada saat pengamal doa itu ada masalah. Repetisi yang dilakukan dalam jumlah bilangan tertentu dimaksudkan untuk mendisiplinkan diri. Dengan demikian, lama-kelamaan, dengan melakukan hal itu, pikiran bawah sadar dapat menerima sebagai suatu keyakinan.

3. Memvisualisasi Sang Tokoh

Membangkitkan daya karisma dapat dilakukan dengan memodelling, matching, mirroring (NLP) pada sosok tokoh tertentu, misalnya Nabi Yusuf As. yang dikenal dengan wajahnya yang rupawan atau tokoh Arjuna dalam pewayangan. Afirmasi dalam bentuk doa, mantra, dan sebagainya bisa memengaruhi keluar (eksternal). Dalam hal ini, energi mengarah ke objek yang dipelet sehingga bisa saja, wanita yang dipelet kemudian mendatangi pemelet.

Bahkan, bisa jadi, ia tidak bisa tidur dan selalu terjaga karena adanya pancaran vibrasi energi yang dikirimkan oleh niat dan pikiran si pemelet. Bisa juga, hal itu memengaruhi pribadi (internal) pemelet. Dengan demikian, saat merapalkan bahwa dirinya adalah Nabi Yusuf atau Arjuna, pikiran bawah sadarnya akan meyakini bahwa dirinya adalah sosok yang disukai wanita.

4. Fokus Pada Target

Kekuatan energi yang timbul dari pikiran bawah sadar ini akan semakin kuat jika melibatkan seluruh panca indra. Dengan demikian, saat seseorang memvisualisasikan sosok yang dipeletnya itu, hal itu benar-benar seperti kenyataan. Hukum sebab akibat (law of attraction) juga berlaku saat melakukan proses ritual pelet. Oleh karena subjek fokus pada obyek yang dipelet, terpancarlah vibrasi energi yang bersifat menarik (attract) dan mengarahkan (direct).

5. Relaksasi Internal

Kondisi relaksasi internal ini biasa tejadi secara tidak sengaja ketika seseorang melakukan ritual tirakat pelet. Oleh karena terlalu fokus, misalnya pada saat tidak tidur dan harus mengamalkan doa dan menjalankan puasa, pelaku pelet berada dalam kondisi trans dan masuk ke dalam kondisi gelombang otak alpha-theta. Dalam kondisi tersebut, kekuatan pikiran bawah sadar semakin menjadi-jadi. Sabda pandita ratu.

Apa pun yang diinginkan dan dibayangkan oleh pelaku pelet dapat menjadi kenyataan. Menurut David R Hawkins: dalam bukunya Power vs Force: The Hidden Determination of Human Behaviour, berdasarkan penelitian, ada map of consciousness dari energi yang timbul saat memiliki keinginan. Energi yang terbesar adalah energi pencerahan dan kondisi ini terjadi saat seseorang dalam kondisi pasrah (tawakal).

6. Faktor Alam

Faktor alam merupakan kondisi lingkungan (grup/kelompok) yang menyuburkan ilmu pelet. Sebagai contoh, seseorang yang terlahir dan besar di daerah Banten, Cirebon, Pati, Banyuwangi, atau daerah yang memiliki tradisi pelet, biasanya mampu menguasai ilmu pelet karena yang bersangkutan terkondisi oleh lingkungannya. Di suatu daerah-tempat saya melakukan survei penulisan artikel ini karena begitu budaya pelet memelet begitu kuat, hal itu menyebabkan kaum perempuan seakan-akan mudah diperebutkan.

7. Emosi Intens

Kondisi emosi yang intens sebagai pendorong dan memperkuat vibrasi energi pikiran bawah sadar. Biasanya, kekuatan pelet akan semakin berlipat ganda saat seseorang dihina atau dilecehkan, misalnya diludahi. Emosi intens yang timbul karena dendam dan sakit hati bisa menjadi pemicu yang memperkuat energi pelet. Kisah Baridin-Suratminah yang melegenda di wilayah Cirebon adalah contoh dari emosi intens (berlebihan) yang dapat memacu seseorang untuk melakukan perbuatan yang luar biasa.

bulu perindu sukma

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!