Potensi Paranormal Sebagai Tokoh Spiritual Masyarakat

tokoh spiritual

Tokoh Spiritual masyarakat yang memiliki potensi dalam bidangnya masing-masing.

John Naisbist, futurolog asal Amerika yang terkenal lewat karyanya Mega Trend 2000, menyebutkan berbagai hal yang bakal terjadi menjelang dan saat dunia memasuki milenium ketiga. Di antara ramalan yang sekarang mulai terbukti kebenarannya adalah kecenderungan manusia membangun kembali sendi-sendi agama, dibutuhkannya sentuhan rohani sebagai terapi penyelesaian masalah dan dikajinya hal-hal irrasional sebagai altematif yang bermanfaat.

Logikanya, pada kondisi tertentu manusia dihadapkan pada berbagai masalah yang kompleks, yang oleh ilmu pengetahuan modern belum bisa terjawab. Perilaku hidup terkesan hampa tanpa makna menyebabkan kejenuhan, karena manusia hanya dijejali materi, rohaninya kosong. Akibatnya, hakekat kehidupan tidak bisa diraih.

Di sebagian besar negara barat, fenomena semacam ini bermunculan. Fasilitas hidup yang super canggih, keglamouran, ketenaran dan semacamnya temyata belum bisa memberikan kebahagiaan. Muncullah penyakit aneh yang tidak diketahui sebabnya, seperti was-was dan hilangnya kepercayaan diri, ketakutan serta kehampaan.

Untuk mengatasinya, mereka mendatangi dukun, paranormal, tabib, pendeta, rahib, pakar kejawen dan sebagainya menurut istilah masing-masing. Tak tanggung-tanggung, di antaranya bahkan terbang ke beberapa negara untuk sekedar menemukan tokoh spiritual yang dirasa cocok.

Peran Seorang Tokoh Spiritual

Dalam kondisi seperti ini, peran tokoh spiritual semakin nampak. Tidak hanya sebagai penasihat rohani, tapi juga dituntut bisa mengatasi berbagai persoalan hidup.

Manakala peran tersebut mulai merambah ke setiap aspek kehidupan, tokoh-tokoh ini bahkan akan merajai sebagian besar profesi manusia. Dokter, psikiater, ekonom, politisi dan lainnya akan tersingkir.

tokoh spiritual masyarakat

Ramalan yang cukup masuk akal ini tentunya memberikan harapan baru bagi kita. Bukankah biaya pendidikan formal yang semakin tinggi serta menyempitnya lapangan kerja bisa diatasi dengan alternatif itu? Lagipula untuk mendapatkan dan mempelajari hal-hal supranatural seperti yang mereka butuhkan tidaklah terlalu sulit. Asal ada ketekunan dan dorongan niat yang besar, toh kita akan memperolehnya.

Dengan analogi singkat dan sederhana, menumbuhkan gambaran bahwa kemampuan spiritual ternyata tidak hanya dimiliki para hukama saja. Buktinya, dukun-dukun klasik yang tidak mengenal agama pun bisa memiliki. Tentunya Anda bertanya-tanya, dari mana mereka memperoleh kemampuan seperti itu?

Dukun di Afrika misalnya, dikenal sebagai tukang santet dan sihir. Tokoh penganut Dalai Lama di Tibet dipercaya mampu membangkitkan kekuatan pribadi dan pelemah mental lawan atau saingan oleh para konglomerat dan selebritis dunia. Pendeta Cina dikatakan mampu mengusir roh jahat, demikian pula di Thailand yang juga tak kalah ampuhnya.

Di Indonesia, cerita tentang tokoh hebat bukanlah hal baru. Sejak zaman sebelum walisongo (kerajaan HinduBudha), di tanah air telah bermunculan tokoh seperti Gajah Mada, Bandung Bondowoso, Kho Iwo, dan sebagainya. Tentunya, Indonesia di mata dunia, adalah salah satu negara yang kaya tokoh spiritual.

Terlepas dari mana mereka mendapatkan kemampuan itu, yang jelas mereka yakin akan adanya kekuatan gaib yang apabila dipelajari dengan sungguh-sungguh bisa memunculkan kekuatan supranatural yang luar biasa. Oleh sebagian mereka, kekuatan ini lalu diolah untuk mendeteksi penyakit, memperkuat jaringan tubuh, mempertinggi mental atau melemahkannya, menyihir, menyantet, meramal, menghilangkan sengkala, menumbuhkan kekuatan luar biasa seperti kebal, tenaga raksasa, memindahkan benda dan lain sebagainya.

Memang, di satu sisi kekuatan supranatural sangat menakjubkan, hingga tiap orang ingin menguasai. Namun, di lain sisi, jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup, justru bisa menyesatkan. Bayangkan, dukun-dukun yang tak beragama merasa dirinya aman di bawah naungan iblis yang dianggap mampu mengagungkan pemujanya. Akibatnya, pikiran mereka sangat jauh dari pengetahuan, Tuhan adalah Maha Tunggal, pengatur seluruh isi alam. Bukankah ini menunjukkan, kuatnya mereka karena anugerah yang murni berasal dari iblis?

Ada umat yang menyembah selain Allah dikaruniai kekuatan supranatural, bagaimana penjabarannya, bukanlah sebagai prinsip. Yang harus diketahui adalah, setiap abdi akan mendapat karunia dari apa yang disembah. Penyembah iblis mendapat karunia iblis, penyembah jin mendapat karunia jin, demikian pula penyembah manusia (misalnya zaman Fir’aun berkuasa).

Sejak dulu manusia memiliki cara tersendiri dalam beribadah. Jarang yang jujur mengatakan, dirinya penyembah iblis, jin, dan manusia setengah dewa. Semuanya mengaku menyembah Tuhan. Upacara ritual dilakukan sedemikian rupa seolah-olah mereka penyembah Tuhan. Itulah yang harus diwaspadai. Sudah jelas kesesatan yang dilakukan.

Yang lain sulit dibedakan. Disamping menyembah Tuhan, mereka bersekutu dengan iblis. Ini semata-mata dijadikan kedok. Mereka hidup membaur dengan penganut agama kita. Caranya beribadah pun mirip. Tapi, hakekat sebenarnya sedang “berkomunikasi” dengan sekutunya. Mereka itulah yang patut mendapat julukan munafik sekaligus musyrik.

Setelah ada gambaran seperti ini, sudah selayaknya kita bersyukur memiliki pegangan iman dan islam. Dalam Islam diyakinkan, tiada daya kekuatan apapun selain berasal dari Allah.

Para hukama, aulia dan orang saleh yang dekat dengan Allah memiliki kemampuan spiritual dari amalan yang dilakukan atau munajat disertai mujahadah tinggi. Tentunya, mereka telah masuk jajaran mukhlisin dan muhibbin (yang dicintai Allah).

Untuk para nabi, Allah menurunkan multjizat. Para wali diberi karomah. Dan ulama serta auliya mendapatkan maunah. Ahmad bin Athaillah, dalam kitab Al Hikam menulis: ” …. Ketahuilah bahwa orang yang sedang berjalan menuju Allah, di tengah perjalanan mereka pastilah tampak berbagai macam perkara yang samar (gaib) …. ”

Orang yang menuju kepada Allah, dalam perjalanannya menggunakan pendekatan ilmu hikmah. Upaya mendekat pada-Nya dilakukan dengan media dzikir, puasa, salat sunnah, wirid dengan doa-doa dan banyak pula dilakukan dengan berbagai ibadah sosial.

Adapun penyingkapan tirai kegaiban ataupun munculnya kekuatan supranatural adalah imbas atau efek dari tirakat (perjalanan menuju Allah) yang dilakukan.

bulu perindu sukma

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!