Pernikahan Jin dan Manusia, Bisakah Terjadi?

pernikahan jin dan manusia

Pernikahan Jin dan Manusia, bisakah terjadi?

Dalam artikel yang sebelumnya yang berjudul “Menerobos Alam Jin, Secara Sukmawi atau Ragawi” sudah saya sebutkan bahwa pertemuan antara jin dengan manusia bersifat rahasia. Tak ada pihak lain melihatnya. Suasananya sepi dan orang-orang di sekitar sudah tertidur (pertemuan umumnya terjadi di malam hari).

Apakah suasana ini tidak menimbulkan gairah sex, terlebih jika pertemuan itu antara dua makhluk yang berjenis kelamin beda? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menjelaskan kepada Anda bahwa secara ragawi manusia dengan jin bisa bertemu.

Caranya, salah satunya harµs ada yang mengalah masuk ke alam yang tidak alamnya. Maka sebelum jin itu menemui manusia yang dikehendakinya terlebih dahulu ia menjelmakan diri dalam wujud manusia.

Dalam keadaan jelmaan itu ia bisa berbuat “apa saja” dengan manusia, sehingga pernikahan atau (maaf) perzinaan antara jin dan manusia bisa saja terjadi.

Pernikahan Jin dan Manusia

Guru saya pernah mengisahkan bahwa pernikahan antara manusia dengan jin sering kali terjadi. la menyebut Ratu Bilkis istri dari Nabi Sulaiman AS adalah manusia campuran (antara jin dan manusia). Benar tidaknya kisah tersebut, WallahuA’lam.

Hukumnya pernikahan tersebut menurut Agama? Masih sebagaimana yang dikatakan guru saya bahwa menurut fatwa Imam Syafi’i pernikahan antara jin dengan manusia hukumnya haram. Tetapi menurut Imam Maliki hukumnya boleh (untuk lebih jelasnya pembaca bisa berkonsultasi dengan ahli agama).


Baca Juga :


Kisah tentang penjelmaan jin menjadi manusia banyak kita temui baik dalam hadis-hadis maupun kisah dari kitab-kitab klasik. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang diteruskan periwayatannya kepada Imam Bukhari, bahwa di zaman Rasulullah SAW pernah ada seseorang yang ditangkap karena ketahuan mencuri kurma hasil zakat bulan ramadhan.

Jin yang menjelma sebagai manusia tersebut kepada sahabat Rasul meminta belas kasih, bahwa ia memiliki banyak keluarga dan kurma-kurma tersebut dimanfaatkannya untuk memberi makan keluarganya.

Oleh Muhammad Rasulullah SAW dijelaskan bahwa orang tersebut merupakan jilmaan jin jahat (setan). Sedangkan kisah lain yang lebih dikenal kalangan orang Islam adalah kisah tentang Barshisa seorang alim yang diperdaya Ifrit.

Terus terang, taraf keilmuan saya dalam dunia jin belum sampai pada taraf bisa bertemu secara ragawi (secara fisik). Insya Allah hal tersebut bisa saya raih pada waktu-waktu yang akan datang. Namun Al-Qur’an jelas-jelas menegaskan bahwa baik itu manusia atau jin juga diciptakan dengan dilengkapi nafsu syahwat. Simak pada surat Ar-Rahman:56.

arrahman 56

Seorang guru hikmah pernah mengisahkan kepada saya, bahwa di desanya ada pernikahan jin dan manusia. Keduanya sering bertemu lalu lahirlah anak lelaki berbentuk manusia (karena di saat bersenggama jin menjelmakan diri sebagai manusia).

Anak hasil pernikahan itu punya banyak kelebihan. Bisa memegang api/bara tanpa kepanasan dan terkadang juga bisa menghilang. Wallahu A’lam.

Namun setiap pernikahan jin dan manusia adalah sebuah pernikahan antar dua makhluk yang hakikinya berbeda, selalu menimbulkan resiko.

Kang Badrun kerabat saya ketika saya ajak bicara mengenai jin-jin perempuannya, nampak sekali ia menyimpan kerinduan yang dalam, maka tidak salah kalau saya mengambil kesimpulan bahwa sudah ada benih-benih cinta, walau benih-benih tersebut mudah-mudahan masih mengikuti rambu-rambu agama. Cinta terhadap keelokan wajah lawan jenis adalah manusiawi.

Kang Badrun mengatakan bahwa sekali manusia berhasil ber”kumpul” pengan bangsa jin, maka menjadi hilang gairahnya kepada sesama manusia. Mengapa? Menurut kang Badrun jin itu juga memiliki rasa cemburu bila tuannya didekati orang lain.

Jin memiliki kecenderungan menguasai manusia ketika manusia tersebut telah memperlakukan dirinya sebagai istri. Mengapa demikian? Karena bangsa jin merasa bahwa menjadi istri dari manusia adalah kehormatan yang amat besar.

Manusia dianggapnya lebih mulia dari segi derajat, sehingga berhasil menjadikannya sebagai suami berarti meningkatkan taraf sosialnya di antara bangsa jin.

Sejauh ini saya masih terus melacak, bagaimana proses pernikahan antara jin dengan manusia. Orang-orang yang memiliki jin cenderung tertutup manakala pertanyaan sudah menyangkut hal tersebut. Mereka seakan memiliki batas-batas tersendiri, kisah mana yang bisa dibeberkan dan kisah mana yang wajib untuk disimpan.

batu combong

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!