Profil Paranormal H Musyadad : Sang Pakar Ilmu Batin

pakar ilmu batin

Pakar Ilmu Batin H Musyadad – Belajar ilmu batin dan belajar ilmu agama hampir menjadi trend tersendiri pada kehidupan santri beberapa tahun silam, terutama saat kondisi politik tidak menentu dan para santri kala itu banyak diburu orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia). Karena itu, di samping memperkuat keimanan, para santri juga perlu merriperbesar nyali, untuk melawan kezaliman.

Caranya ? Banyak di antara para santri yang mengkhususkan diri melakukan laku batin riyadhah, sehingga tidak mustahil, jika dari lingkungan pesantren muncul tokoh alias santri jadug yang menjadi tumpuan masyarakat terutama saat menghadapi gangguan yang bersifat fisik.

Munculnya tokoh seperti Gus Maksum atau Gus Cholil merupakan panggilan zaman. Maklum, mereka terlahir saat kondisi memaksa santri-santri untuk menjadi orang kuat. Ketika era itu terlalu trend, memburu ilmu batin bergeser. Dari yang semula memburu ilmu jenis kanuragan, menuju ke ilmu yang lebih kalem. Ternyata hal itu lebih dibutuhkan orang banyak, sesuai dengan perubahan kondisinya.

Mujahadah

Ilmu yang umum digali di lingkungan yang bernuansakan religi pada umumnya lebih tertuju ke ajaran ber-mujahadah, bersungguhsungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Kalau manusia dekat pada Allah, maka Dia yang akan mengatur potensi kita” kata H.Musyadad, seorang spiritualis asal Welahan, Jepara.

Menurutnya, seseorang yang melakukan riyadhah-riyadhah tertentu tidak selamanya harus disertai suatu yang bersifat duniawi. Seperti melakukan puasa agar mencapai kesaktian, atau memperbanyak salat malam untuk meraih karisma yang tinggi.

Pada-dasarnya, ber-taqorrub kepada Allah, meningkatkan ketakwaan, bersikap ikhlas rendah hati kepada Allah atau sesama menjadi tujuan yang paling mendasar dari ritual-ritual yang dilakukannya. Karena itu, setelah menerima berbagai ilmu batin, Musyadad muda disarankan untuk menempuh laku oleh gurunya seorang ulama karismatik, agar pergi meninggalkan kampung halamannya hanya berbekal sajadah, tasbih, dan uang secukupnya.

“Selama dalam perjalanan itu saya mendapat isyarat hanya boleh memakan apa yang dilihat. Tidak boleh meminta, apalagi mencuri,” kata Pak Haji berwajah teduh ini. Ritual ini dinamakan dengan puasa ngrame, bisa Anda baca selengkapnya disini : Mengenal Ritual Puasa Ngrame.

Yang dikisahkan itu merupakan bagian kecil dari laku yang dijalaninya. Bahkan, pada kesempatan lain, H.Musyadad juga pernah “menggelandang” sampai di Pulau Kalimantan. Di sana ia hidup dengan berjualan cendol, dan semua itu dilakukan sebagai pencarian jati diri dan penghayatan hidup.

Menurut putra pasangan Lurah Suhadinur dan Mar’ati ini, laku ilmu batin guna mengasah rohani dan menghayati kehidupan, termasuk di dalamnya merasakan terhadap hidup prihatin, amat diperlukan oleh mereka yang tertarik dunia spiritualis.

Dengan kata lain, H.Musyadad lebih cenderung pada keberkahan
suatu ilmu dibandingkan dengan memburu jumlah ilmu. “Kalau ingin memburu jumlah ilmu, dalam satu hari kita bisa menghafal puluhan amalan,” katanya. Tetapi apakah yang puluhan itu akan memberikan nilai pada seseorang yang mengamalkannya?

Karena itu, menurutnya, kunci menguasai berbagai ilmu ada pada rohani manusianya. Dan itu terletak pada kesungguhan hati (mujahadah) untuk mendekatkan diri pada Allah SWT disertai keikhlasan hati. Jika rohani telah mapan, insya Allah seseorang akan meraih banyak hal.


Baca Juga : 


H.Musyadad lalu mengutip sebuah hadis Thabrani tentang kecintaan Allah kepada seorang hamba, sehingga ia diberi pendengaran, penglihatan, lidah dan pikir, seperti-Nya. “Banyak orang yang karena saleh dan memperbanyak ibadah kemudian Allah mengaruniai keistimewaan” katanya.

Karena itu, para alim pun memiliki kemampuan di luar jangkauan manusia lumrah seperti melihat masa yang akan datang, bahkan melihat jenis kegaiban lain yang tidak bisa diterima nalar. Apakah itu meramal?

“Tidak ! mereka menafsirkan isarat yang diberikan Allah SWT,” kata H.Musyadad yang dengan rendah hati mengatakan bahwa kemampuan seperti itu tidak dimilikinya. Tetapi jika suatu saat ia telanjur bicara dan kemudian menjadi suatu kenyataan, jujur ia katakan, hal-hal seperti itu sepertinya reflek. Tidak dikendalikan oleh pikir, tetapi oleh bisikan hati.

Apa kunci agar batin seseorang menjadi peka? Ditanya seperti itu H.Musyadad menjelaskan, kuncinya ada pada kebeningan hati dan kelurusan pikir. Sedangkan menurut kebiasaan para spiritualis, riyadhah mengasah kepekaan itu adalah memperbanyak tafakur dan beribadah pada malam hari, ketika orang lain sudah terpulas dalam tidur.

Tingkatan Ilmu Batin

Karunia berupa kelebihan yang berkaitan dengan hal-hal yang supranatural, menurut H.Musyadad bisa timbul dari berbagai hal. Pertama, bisa timbul dari karunia yang tidak diminta, yang biasanya diberikan oleh Allah akibat “bonus” dari amal salehnya.

Kekuatan supranatural yang kedua bisa timbul karena faktor laku ilmu batin. Dengan kata lain, seseorang yang melakukan laku itu memang bertujuan untuk suatu hajat tertentu. Dan yang ini, menurut H.Musyadad, terbagi menjadi empat tingkatan.

Pertama, ilmu kelas utama yang biasa disebut dengan kunci makrifat. Pada tahap ini seorang paranormal lebih banyak berpedoman dan bercermin dari getaran ataupun keilmuan yang bersumber pada kebesaran Allah SWT.

Kedua disebut kunci ilmu kebatinan. llmu ini lebih halus karena bercermin pada hakikat hidup lewat batin. Sedangkan kelas tiga dan empat adalah kunci ilmu pedayangan dan kunci ilmu prewangan (roh). Pada dasar ini mereka meminta bantuan kepada makhluk halus seperti danyang dan roh-roh tertentu.

Dari berbagai kelas ini, H.Musyadad menyarankan umat untuk lebih memilih ilmu kelas satu atau dua. “Ini untuk kepentingan yang berkaitan dengan kemurnian aqidah agama” katanya. Sedangkan kelas di luar itu bisa membahayakan akidah, terutama bagi mereka yang imannya tidak kuat.

Kehidupannya Dalam Dunia Supranatural

Keterlibatan H.Musyadad dengan dunia supranatural dimulai sejak usia kanak-kanak. Ia juga banyak belajar ilmu agama dari berbagai ulama. Namun ketekunannya menjalani laku batin (riyadhah) tidak memengaruhi tugas-tugasnya.

Alumnus IKIP Negeri Semarang ini tercatat sebagai guru pada sebuah SD di daerahnya. Di luar jam dinasnya H.Musyadad banyak menerima tamu dari berbagai kalangan, mulai dari kelas pejabat sampai penduduk biasa.

Ditanya apa saja keperluan tamu-tamunya, H.Musyadad menjelaskan bahwa pada umumnya tamu yang datang kepadanya sebagian besar butuh “jalan pintas” secara batin. Ada yang sekadar untuk berdiskusi dari kebuntuan yang sedang dihadapi, ada juga yang datang untuk tujuan lain.

Cara melayani tamu-tamu itu pun beragam. Ada yang hanya diberi amalan berupa wirid, ada yang cukup obat berupa nasehat, terkadang ada juga yang harus diberi benda yang telah di asmak. “Tergantung pada kebutuhannya, juga tergantung pada latar belakang tamu” tuturnya.

Bertemu dengan H.Musyadad memang memberikan kesan lain. Meski segudang ilmu ia miliki, namun kesan sebagai bapak yang lembut dan merendah selalu diperlihatkannya. Jika memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, tidak banyak yang ia lontarkan. Ia lebih banyak menjawab dengan senyum lembutnya.

Ia selalu wanti-wanti agar dalam hidup ini seseorang menjauh dari hal-hal yang bersifat menyimpang. Agama adalah utama, dan ilmu apa pun bentuknya, keberadaannya harus mampu menunjang seseorang untuk menjadi lebih agamis. “Hidup ini hanya sementara, ibaratnya mampir minum, manfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.

H.Musyadad mengakui bahwa ketertarikannya untuk menekuni dunia supranatural boleh dikata dari latar belakang keluarga. Cucu H Noor Achmad Ulama karismatik asal Jepara ini menjadikan laku ilmu batin (riyadhah) menjadi bagian dari hidupnya secara turun temurun.

ltu pula yang menyebabkan dia ketika menunaikan ibadah haji bisa mengelabui penjaga Gua Hira. Di sana dia bertafakur hampir tiga hari tiga malam.

Pernikahannya dengan Hj. Hamidah membuahkan empat orang anak. Hafiaminatun, Anif Badrudin, Kalifatul Unfa dan Khalid Alfad. Pak Haji yang rendah hati dan memiliki kewaskitaan sehingga nasihat-nasihatnya dan diburu banyak orang, ini mengaku sering mengalah pada tamu-tamunya.

Maka ketika seorang redaktur dari suatu harian di Jawa Tengah mendaulatnya untuk meramal, H.Musyadad pun memenuhinya. Dan pada tahun 1997 menurut prediksinya, Pemilu berjalan cukup lancar. Kalaupun ada gejolak yang kurang mengenakkan justru terjadi setelah Pemilu, yaitu adanya kekacauan di ujung timur dan barat Pulau Jawa.

Tahun 1997 juga akan diwarnai hilangnya seorang putra terbaik Indonesia. Kedukaan itu terjadi setelah Pemilu. Bencana alam ? Di Jawa agak berkurang, tetapi di luar Jawa akan terjadi bencana besar. Di Jawa banyak terjadi kecelakaan dan kejahatan makin meningkat, lebih berani dan sadis.

Konon, ramalan itu tidak untuk menakut-nakuti. “Saya berkata sesuai dengan apa yang saya terima dalam hati,” katanya. Hikmahnya? Agar kita lebih hati-hati dan mawas diri.

Langganan Para Atlet Olahraga

Di antara tamu-tamu H. Musyadad terdapat juga kalangan atlet, pelatih atau pengurus dari cabang olah raga tertentu. Menurut mbah Mus, panggilan akrabnya, mereka sering mencari bekal batin. Dijelaskan, seperti atlet bela diri banyak yang mentari ilmu “kebal” hingga mereka menjadi tahan banting dan tidak mudah cidera.

“Biasanya saya memanfaatkan asmak kurung” tuturnya. Tapi menurut mbah Mus, asmak kurung guna ketahanan fisik dari benturan, cara memasukkannya harus di dalam kulit, tidak di luar kulit.

Khusus bagi atlet yang membutuhkan kelincahan/kegesitan, mbah Mus memanfaatkan kulit kijang. “Metoda saya adalah memanggil naluri binatang itu kemudian saya transfer pada kulitnya” katanya. Untuk kulit macan ?

“Kulit macan hanya cocok untuk pemimpin atau yang berprofesi sebagai keamanan” kata mbah Mus. Dan seseorang yang membawa kulit macan, ia tidak merasakan ada perubahan pada dirinya, hanya kalau orang lain terutama yang berniat jahat, insya Allah akan menjadi segan. Sehingga jika kulit macan ini dilibatkan dalam kegiatan olah raga yang paling tepat adalah dipegang wasit. Mengingat banyak wasit dijadikan bulan-bulanan atlet akibat kurang berwibawa.

Menurut mbah Mus, keakraban kalangan atlet dengan hal-hal yang supranatural bukanlah rahasia lagi. Walau tanpa menyebut nama suatu kesebelasan, mbah Mus sesekali diminta menjadi “suhu”. Seperti bagaimana agar gawang tidak mudah kebobolan bahkan sekaligus mendeteksi menit ke berapa gol akan terjadi.

Dijelaskan, suatu kesebelasan yang gawangnya dikurung dengan garis gaib maka tugas pemain adalah sebanyak mungkin menciptakan go!. Sedangkan jika gawang yang dikurung itu ditempati lawan, cukuplah mengamankan gol yang sudah didapat.

Tentang mendeteksi menit-menit rawan, ini dimaksudkan agar pemain bisa melapis pertahanan. “Karena sebuah gol tercipta atas ikhtiar manusia, penanggulangannya pun bisa dilakukan manusia lain” kata mbah Mus. Namun jika dua kesebelasan sama-sama memanfaatkan ilmu gaib, jika kedua ilmu itu bersumber dari level yang seimbang, maka kedua ilmu itu sama-sama tidak berfungsi.

lstilah adu ilmu hanya terjadi jika ilmu yang dimanfaatkan dua kesebelasan itu berbeda. Umpamanya, satu pihak memanfaatkan asmak, sementara yang lain memanfaatkan ilmu pedanyangan, maka yang pedanyangan akan kalah. Sedangkan jika ilmu itu dari level yang sama, maka kembali ke fisik semula.

Mbah Mus menjelaskan, untuk mencapai juara seorang atlet harus unggul dalam lima faktor, yaitu : fisik, teknik, pengalaman bertanding, mental dan keberuntungan. Sedangkan pemanfaatan hal-hal yang supranatural itu hanya menyentuh faktor mental dan keberuntungan saja.

 

jimat pelarisan
error: Content is protected !!