Puncak Dari Semua Ilmu Adalah Selamat

Seorang guru ilmu hikmah menyebutkan bahwa puncak dari ilmu adalah selamat. Pengertian selamat itu amat luas. Seperti orang yang disabet dengan senjata tajam namun tidak luka, itu pun bisa dikategorikan selamat. Begitu halnya orang yang sudah dibawakan senjata tajam oleh orang yang mengancamnya namun senjata itu tidak jadi dimanfaatkan atau niat jahat itu diurungkan, itu pun bentuk lain dari selamat.

Karena itu, menjadi tradisi para santri manakala ia menerima wejangan (ijazah) ilmu dari guru, jika guru menyebutkan ilmu atau amalan itu untuk keselamatan, maka cukuplah baginya untuk meyakininya. Para santri itu faham benar bahwa pengertian selamat itu amatlah luas.

Seorang rekan pernah menerima ijazah berupa amalan ayat Kursi dari seorang Kiai. Oleh Pak Kiai disebutkan bahwa ayat Kursi yang diijazahkan dengan cara tertentu itu, insya Allah menyebabkan pengamalnya selamat.

Maka dengan yakin dan husnudzon (berbaik sangka) Ayat Kursi itu pun diamalkannya dengan istikomah. Artinya, dalam kondisi yang bagaimanapun Ayat Kursi selalu dibaca setiap usai shalat fardhu dalam jumlah ulangan tujuh kali dan pada bagian tertentu ada yang harns diucapkannya dengan menahan napas.

Beberapa kali, santri itu mengalami keajaiban. Terlebih lagi saat dirinya dalam keadaan bahaya. Misalnya, pernah ia dihajar beberapa supporter bola voli, tetapi ia melihat bahwa setiap pukulan penyerang selalu meleset seperti ia memiliki ilmu lembu sekilan atau jenis dari tenaga dalam kontak. Lebih unik lagi, walau ia melihat setiap pukulan itu meleset, namun orang lain yang menyaksikan pengeroyokan itu bersaksi bahwa berbagai pukulan itu mendarat dibadannya.

Dilain hari, rekan itu terpaksa harus berkelahi dengan tiga pemuda mabuk yang bersenjata tajam. Anehnya, setiap tusukan yang mengenai tubuhnya, tak menyebabkan luka. Padahal baju yang ia kenakan robek tercabik-cabik oleh tajamny pisau tersebut.

Kepada penulis (saya) ia mengaku, seumur hidup tidak pernah belajar ilmu kekebalan, tenaga dalam juga ilmu lembu sekilan. Yang ia wirid tak lain hanyalah ayat kursi setiap usai salat fardhunya.

Ia juga tak habis mengerti, mengapa keajaiban-keajaiban itu selalu menyertainya. Belakangan ia memahami bahwa pengertian “selamat” itu ternyata luas. Ketika pukulan orang lain tidak mengenainya, atau ketika hujaman senjata tajam tak membuat kulitnya terkoyak, itu pun bentuk keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Namun demikian, menurut etika yang berlaku di kalangan ilmu hikmah, walau seseorang pernah selamat dari senjata tajam, bukan berarti ia boleh mengklaim dirinya kebal dari senjata. Begitu halnya ketika beberapa pukulan tidak berhasil mendarat (meleset) dari badannya, bukan berarti ia boleh mengklaim dirinya memiliki ilmu lembu sekilan.

Tradisi yang berlaku di kalangan ahli hikmah bahwa bentuk keselamatan itu, bersifat elastis. Artinya, apa yang terjadi pada saat itu, belum tentu berlaku pada saat yang lain. Semisal, pengamal wirid ayat kursi itu selamat dari serangan senjata tajam juga ayunan pukulan supporter bola voli, tetapi ketika pengamal wirid itu terdesak karena nyungsep pada kamar seorang janda, belum tentu keajaiban itu berlaku pada dirinya.

Dengan kata lain, bentuk keselamatan itu tergantung dari situasi dan kondisinya. Dari kesimpulan ini para ahli hikmah kemudian memunculkan semacam keyakinan bahwa keselamatan itu lebih berpihak kepada orang yang banyak mengingat Allah (zikir), melalui lisan dan perbuatannya, yaitu perbuatan yang seiring dengan ridha Allah, dalam hal ini adalah ke benaran dalam perilaku.

bulu perindu sukma

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!