Berbagai Jenis Ritual Puasa Dalam Ilmu Kejawen Bag. 1 – Puasa Mutih

ritual puasa mutih

Puasa Mutih – Berbagai Jenis Ritual Puasa Dalam Ilmu Kejawen Bag. 1

Puasa dalam bahasa Arab diartikan sebagai saum, yang berarti menahan. Dalam bahasa Jawa disebut sebagai pasa. Dalam aplikasinya melakukan puasa memiliki aturan dan tujuan yang berbeda. Dalam ajaran Islam, maka puasa dilakukan dari waktu sebelum subuh hingga magrib. Sedangkan puasa yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebelum masa Islam masuk digunakan dan dilakukan untuk lelaku menguasai kekuatan dan ilmu gaib.

Saat menyebarkan Islam kepada masyarakat Jawa yang sudah memiliki keyakinan berbeda dan kepercayaan dengan dunia gaib sudah kental, para wali mengajarkan dan mengarahkan keyakinan tersebut menjadi sedikit berbau Islami. Dari sini lah bentuk puasa yang dilakukan dan diajarkan memiliki bentuk seperti yang sekarang ini bisa kita lihat saat seseorang melakukan ritual lelaku untuk keperluan tertentu.

Dalam bahasa Jawa, sering kita mendengar adanya ungkapan:

Nek sira kepingin ora tedas tapak palune pande, sira kudhu gentur ing tapa, Ian kabeh kuwi iso dituku kanthi ngelih“.

Artinya: Jika kamu ingin memiliki kemampuan kebal terhadap senjata dan memiliki kemampuan tinggi, maka kamu harus memperdalam semadi (meditasi), dan semuanya dapat dibeli dengan rasa lapar (puasa).

Hal yang disampaikan dalam kalimat tersebut adalah jika manusia ingin memiliki kemampuan dalam diri yang merupakan kekuatan gaib, maka ia harus gemar melakukan puasa dan kuat dalam semadi.

Ada 5 macam puasa yang akan saya bahas disini yang terbagi dalam 6 Artikel terpisah :

1. Puasa Mutih

Puasa mutih adalah jenis puasa yang dilakukan oleh para spiritualis yang menginginkan adanya kemampuan dalam dirinya. Hal ini masih sering dilakukan di kalangan spritualis dengan tujuan untuk membersihkan diri dari segala hal yang dianggap menghalangi penerimaan sebuah kekuatan gaib.

Puasa mutih ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Sahurnya Puasa Mutih

Sahur dengan menggunakan nasi putih saja tanpa menggunakan lauk pauk dalam bentuk apapun. Makanan yang dimakan adalah berwarna putih semua. Dalam hal ini, maka keberadaan garam untuk memberikan rasa diperbolehkan. Waktu sahur adalah sesaat sebelum adzan subuh (dilakukan seperti puasa ramadhan).


Baca Juga :


Untuk banyak porsi makanan, ada yang menentukan adalah sekenyang perut. Ada juga yang mengatakan dibatasi sebanyak atau sebesar kepalan tangannya sendiri dan tidakboleh lebih dari kepalan tangannya sendiri.

Buka Puasanya Puasa Mutih

Buka puasa atau makan untuk membatalkan puasa mutih dapat dilakukan dengan menu makanan yang sama pada saat melakukan sahur, yaitu nasi putih tanp lauk. Jika dituntut melakukan puasa ini selama lebih dari satu hari (3 hari atau 7 hari), maka waktunya makan hanya pada saat sahur dan buka puasa saja. Malam hari dilakukan puasa seperti pada siang hari.

Puasa mutih biasanya dilakukan untuk menguasai suatu kekuatan yang kelak akan berada dalam diri pelaku. Ritual ini memiliki dasar, yaitu puasa mutih sebagai sarana pembersihan diri dari dosa-dosa yang pernah dilakukan untuk menerima sebuah kekuatan gaib dalam diri pelaku ritual.

Dalam melakukan ritual puasa mutih, sebelum pelaksanaan terlebih dahulu sang ritualis melakukan mandi bersih yang disertai dengan keramas pada waktu sore hari. Hari berikutnya baru melakukan puasa mutih.

Jenis ilmu atau kekuatan gaib yang ingin dimiliki sudah menjadi tujuan awal dalam pengucapan niat saat melakukan mandi. Pengucapan mantera ini biasanya ditentukan oleh guru yang mengajar atau orang yang dianggap sudah memiliki kemampuan dalam bidang gaib.

Baca Selanjutnya di Bag. 2 – Berbagai Jenis Ritual Puasa Dalam Ilmu Kejawen Bag. 2 – Puasa Ngebleng

batu giok pengasihan

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!