Ziarah Kubur Sebagai Pintu Gerbang Untuk Belajar Ilmu Gaib

ziarah kubur

Ziarah kubur yang merupakan kebudayaan jawa kuno yang masih sangat dipercaya.

Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai wujud bahwa mereka mempercayai dan menghormati keberadaan dunia gaib. Dalam hal ini maka masyarakat Jawa melakukan hubungan tersebut dengan’berbagai cara pula. Hubungan yang ada di masyarakat Jawa hingga saat ini masih sering diwujudkan dengan bentuk-bentuk ritual.

Lelaku memiliki jenis yang bermacam-macam tergantung dari mana orang yang melakukannya akan mengambil manfaat dan peranan dari lelaku itu sendiri. Contoh sederhana sebuah lelaku adalah berziarah kepada para pendahulu yang telah meninggal.

Berziarah adalah mengunjungi makam dari pendahulu-pendahulu dengan maksud mendoqkan arwah mereka. Tetapi lingkup dari ziarah itu sendiri sebenarnya tidak hanya dalam lingkup makam pendahulu saja, bisa juga mengunjungi petilasan yang pernah digunakan.

Dalam sejarah beberapa orang yang memimpin bangsa Indonesia juga melakukan ritual serupa ke makam para leluhur yang pernah memperjuangkan bangsa Indonesia dan memimpin bangsa. Hal ini kadang dianggap sebagai penghormatan kepada leluhur atas jasa yang pernah dilakukan namun fenomena yang sebenarnya terjadi hanya diketahui oleh sang pelaku ritual itu sendiri.

Hingga saat ini, melakukan ziarah kubur masih dianggap sebagai hal yang sakral bagi masyarakat jawa.

Ziarah Kubur Sebagai Pintu Gerbang Untuk Belajar Ilmu Gaib

Sebaga contoh adalah berziarah ke makam para pendahulu yang memang memiliki ikatan terhadap diri pelaku ziarah. Misalkan, berziarah ke makam orang tua, kakek atau nenek. Dalam kepercayaan masyarakat jawa, jika akan melakukan lelaku, sebelumnya harus minta restu dari para pendahulu baik yang terdekat (orang tua) maupun yang agak jauh (kakek atau nenek). Setelah melakukan perziarahan dengan mendoakan kedua orang tua, maka sang ritualis dapat melakukan ritual yang disebut lelaku.

Ziarah bagi masyarakat jawa memang merupakan hal yang sakral sebagai pintu gerbang untuk menjalani ritual dan lelaku. Karena dianggap sebagai perilaku maka hal ini dapat digolongkan sebagai lelaku.

Menurut kepercayaan masyarakat jawa, jika memang dalam melakukan ritual berziarah ini adalah awal mula seseorang yang akan menjalani ritual, maka ia dapat perlindungan dan momongan (pengawasan) dari para pendahulu yang telah diziarahi kuburnya.

Hal yang dianggap sebagai pintu gerbang dalam pembelajaran diri dengan dunia gaib memang harus dilakukan dengan yang telah menjadi gaib dan yang dekat dengan para ritualis. Ini memang sudah menjadi kepercayaan masyarakat Jawa dan menjadi syarat awal dalam melakukan perjalanan lelaku dalam bentuk apapun.

Ziarah Kubur Dilakukan Untuk Mendoakan

ziarah kubur untuk mendoakan

Mendoakan orang tua adalah wujud dari pengabdian diri seorang anak kepada orangtuanya. Hal ini dijadikan sebuah ritual, yaitu dengan mengirim doa kepada para leluhur. Tujuan dari dilaksanakannya ritual ini adalah mendoakan agar para leluhur tersebut mendapatkan tempat yang terbaik di alam akhirat. Ritual dilakukan dengan sederhana, yaitu menggunakan media bunga. Bunga yang digunakan adalah: kanthil, mawar, kenanga, dan jenis bunga lainnya yang memiliki kewangian menyengat.

Bunga yang diberikan di atas nisan ini dipercaya oleh masyarakat Jawa mampu mengurangi rasa siksaan yang terjadi di alam akhirat. Bentuk penyajian dari bunga hanya ditaburkan saja. Setelah ditaburkan, maka dilakukan ritual doa.

Hal ini sudah melekat menjadi sebuah kebudayaan yang dianggap sebagai kewajiban bagi masyarakat Jawa untuk tetap menghormati keberadaan gaib dan leluhur.

Ziarah Kubur Ditujukan Untuk Mencari Petunjuk

ziarah kubur untuk meminta petunjuk

Berbagai tujuan memang selalu ada dalam sebuah perilaku. Jika seseorang dalam menghadapi masalah sudah merasa tidak mampu menyelesaikan, maka ia akan mencari bantuan kepada orang lain. Jika orang lain tidak dapat membantu, maka jalan pertama yang dilakukan adalah pergi ke makam orang terdekat atau makam dari orang yang pada masa hidupnya memiliki kemampuan tinggi.

Tujuan utamanya adalah untuk mencari jalan keluar dari sebuah masalah. Tujuan ini memang sedikit banyak sering ada dalam benak para pelaku hanya semata-mata untuk mendapatkan petunjuk atau jalan keluar dari masalah yang ada. Namun ziarah dengan maksud demikian ini tidak dibatasi hanya pada lingkup makam saja, bisa juga pada tempat yang dianggap keramat.

Dari tujuan yang dimiliki oleh seorang pelaku, jika lelaku tersebut berhasil secara tidak langsung akan mendapatkan petunjuk dalam bentuk wangsit. Wangsit di sini tidak dibatasi bentuknya. Bisa saja pelaku bertemu dengan yang dituju, terdengar suara gaib, atau terdengar suara dalam mimpinya.

Lelaku ini dapat berbentuk tidur. Pelaku melakukan tidur pada tempat yang dianggap akan memberikan petunjuk. Terlebih dahulu sebelum melakukan tidur ini, maka pelaku melakukan njawab (minta izin kepada pemilik tempat yang bersifat gaib). Permintaan izin ini dapat disusun dengan kaIimat sendiri menurut pelaku.

Selain melakukan tidur, ritual dapat juga dilakukan dengan bermeditasi atau bersemedi di dalam tempat tersebut. Hal yang paling sering dilakukan oleh masyarakat Jawa jika ingin diberi pesan dari yang sudah meninggal adalah dengan melakukan ritual tidur di dekat nisan orang yang dituju.

Ziarah Kubur Digunakan Sebagai Media Komunikasi Dengan Dunia Gaib

ziarah kubur untuk komunikasi dengan yang gaibKomunikasi dengan makhluk halus adalah hal yang memang jarang dapat dilakukan oleh orang awam, tetapi hal ini bisa saja terjadi karena kebetulan dan karena kesengajaan.

Dikatakan sebagai kebetulan karena memang sang pelaku ritual tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Dan makhluk halus tersebut memang ingin menampakkan keberadaanya kepada sang pelaku.

Kesengajaan terjadi karena memang sang pelaku memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk haIus. Kemampuan ini di luar dari ritual yang dilakukan pada saat itu.

Komunikasi yang terjadi biasanya hanya terjadi dalam waktu yang singkat, kurang dari satu menit, tetapi bisa saja lebih dari waktu itu. Untuk bisa melakukan komunikasi ini maka pelaku ritual terlebih dahulu melakukan ritual, yaitu puasa atau menyajikan beberapa sesaji yang dianggap perIu untuk dipersembahkan. Dengan banyaknya orang maka banyak juga pemikiran, jalan yang ditempuh, dan tujuan melakukan ritual.

Ziarah Kubur Memohon Kepada Yang Gaib

ziarah kubur untuk memohon kepada yang gaib

Manusia memang memiliki metode berpikir yang beragam dan berbeda-beda. Ada orang yang memiliki pemikiran bahwa ia memang tidak bisa lepas dari hal-hal yang bersifat gaib. Ia harus selalu berada di lingkungan yang berbau gaib.

Sebagian pelaku ritual melakukan permintaan pada saat ia sedang melakukan ziarah di suatu tempat. Hal ini memang sudah biasa terjadi ketika masi marak nomor jitu (togel) dan waktu-waktu sebelumnya. Meminta pada yang gaib agar diberikan sesuatu tidak hanya dalam lingkup kekayaan atau berbentuk benda, tetapi keinginan sang pelaku yang banyak. Misalkan saja seorang pelaku ritual meminta pada saat ritualnya untuk diberikan aura pengasihan agar mudah dalam mendapatkan jodoh, atau pelaku memohon agar diberikan benda pusaka yang ada di dalam tempat tersebut.

Jika lelaku ziarah ini,memang ditujukan pada permintaan benda pusaka, maka hal ini biasanya disebut dengan penarikan benda pusaka. Fenomena ini tidak bisa dikatakan sebagai anggapan yang salah karena memang dalam ritual ziarah ditujukan untuk meminta benda pusaka dan bukan sebagai penarikan benda pusaka.

Yang sebenamya terjadi jika ada penarikan benda pusaka adalah penarikan benda pusaka yang memang berada dalam suatu tempat. Prosesnya tidak berhubungan dengan makhluk halus yang menghuni tempat itu. Dengan memohon dan memberikan ganti berupa sesaji kepada penghuninya disebut dengan meminta benda pusaka dan bukan merupakan penarikan benda pusaka.

garam pangruwat

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!