Makna Pitutur Jawa Kesrimpet Bebet, Kesandung Gelung

Kali ini, saya ingin berbagi tentang salah satu pitutur jawa, yang saya rasa penting untuk kita dalami. Terutama bagi Anda yang sudah berumah tangga.

Pitutur ini berbunyi, ‘Kesrimpet Bebet, Kesandung Gelung’, atau sama juga kebalikannya, ‘Kesandung Gelung, Kesrimpet Bebet’. Ini adalah pitutur yang secara khusus dimaksudkan agar seorang lelaki, yang telah berumah tangga, alias telah menjadi suami, agar senantiasa berhati-hati terhadap godaan wanita lain. Kalau di jaman sekarang, kita menyebutnya pelakor.

Kesrimpet, artinya terjerat. Bebet, adalah kain panjang yang dikenakan perempuan. Jarik, kalau kata orang. Kesandung, maknanya tersandung. Sedangkan Gelung, adalah sanggul yang dilingkarkan di bagian belakang kepala seorang perempuan, yang biasanya ditambah konde.

Terjerat kain, tersandung sanggul. Pitutur ini merujuk pada seorang lelaki beristri, yang kemudian hidupnya hancur berantakan, karena bermain perempuan. Oleh istri dan anak-anaknya, ia kemudian ditinggalkan. Usahanya tidak terurus, sehingga harta benda pun habis.

Nama baik sudah tercoreng karena perselingkuhan. Habislah sudah semua yang ia miliki, habislah sudah semua yang ia perjuangkan susah payah. Hanya karena salah langkah.


Baca Juga :


Inilah cara orang tua jaman dulu untuk mengingatkan, agar jangan sampai takluk pada godaan. Bahwa kelihatannya mungkin manis di depan. Mungkin terlihat nikmat dan menyenangkan. Tapi nikmatnya itu tidak seberapa, bila dibandingkan dengan kejatuhan yang nantinya harus diterima.

Terlebih lagi, banyak lelaki tersandung gelung, awalnya sebenarnya hanya iseng saja. Tidak berniat serius. Hanya sekedar menyapa. Kemudian dibalas senyum. Makin beranilah ia menyapa, dan berubah menjadi menggoda.

Lama kelamaan, tanpa disadari, hubungan pun terjalin. Kemudian semakin serius. Kemudian ketahuan. Dan sisanya tinggal cerita. Tahu-tahu hidupnya sudah berantakan saja.

Padahal awalnya hanya iseng. Karena itulah, orang tua jaman dulu selalu mengingatkan, agar isengnya ini jangan sampai terjadi. Awalnya sekedar iseng, tapi lama kelamaan ia mulai menuruti semua keinginan sang perempuan. Mengorbankan waktunya, hartanya, dan segala macam hal yang mestinya menjadi hak keluarga. Hak istri dan anak.

Belakangan ini, semakin sering saya menjumpai kasus-kasus perselingkuhan, dimana kemudian hanya si perempuan yang disalahkan. Si selingkuhan diubek habis-habisan. Apakah si perempuan selingkuhan ini salah? Iya tentu salah. Tetapi kita sering lupa, bahwa Anda sebagai suami juga salah.

Rumah tangga ini milik berdua. Dibangun berdua. Untuk mempertahankannya, bukan hanya kewajiban seorang istri saja, tetapi kewajiban suami pula.

Masih banyak istri yang tersakiti menyatakan bahwa suaminya direbut perempuan lain. Padahal suaminya bukan barang. Tidak bisa diambil begitu saja. Karena manusia punya keinginan, punya kemauan. Bisa menolak, bisa berkata tidak. Pada kenyataannya, yang terjadi bukan sekedar suaminya direbut orang, tetapi sang suami tersandung gelung, terjerat bebet yang tidak bisa dia lepaskan.

Karena itu, bagi Anda para suami, selalu ingatlah pitutur ini. Bahwa jika Anda tidak ingin kehilangan semua yang telah Anda perjuangkan, maka lebih bijaklah dalam bertindak. Tidak perlu bermain api, bila tidak ingin terbakar.


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari dibawah ini

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :

error: Content is protected !!

telegram dewi sundari