Membahas Apa Itu Sawanen? Dan Cara Mengatasinya

sawanen

Apa itu Sawanen? – Belum ada penjelasan yang pakem tentang apa itu sawanen. Bagi orang jawa sawanen tentu sebuah kata yang kerap muncul dalam perbincangan. Biasanya terjadi pada anak kecil yang tiba-tiba sakit setelah atau sepulang melayat.

Ciri-ciri dari anak yang menderita sawanen adalah badan terasa panas, meriang, tetapi telapak kaki dan telinga terasa dingin, dan meskipun sudah berobat ke dokter, sakit seperti belum sembuh juga.

Selain itu sawanan juga bisa mempunyai ciri pada anak yang mendadak mengalami “perubahan perilaku” yang tidak seperti biasanya, atau mendadak sakit (kurang enak badan), dan itu semua terjadi tanpa alasan yang jelas yang lebih dikaitkan dengan hal-hal mistis.


Baca Juga :


Bila sudah terjadi seperti ini biasanya orang akan lebih memilih untuk dibawa ke “orang pintar” didaerah tersebut. Kemudian si anak akan mendapatkan doa atau ramuan yang diberi mantra yang lalu diminumkan ke si anak. Dan secara ajaib si anak langsung sembuh? Kok bisa ya.

Tanda-tanda Anak Terkena Sawanen

Beberapa tanda-tanda Anak yang terkena sawanen bisa disimpulkan dibawah ini :

  • Anak-anak yang mulanya periang, menjadi rewel (sering menangis tidak wajar) tidak tau apa yang dimintanya, bahkan bisa menagis sepanjang malam.
  • Anak-anak menjadi lebih sensintif dari biasanya (mudah marah, mudah merajuk dan mudah menagis).
  • Anak-anak menjadi kagetan (mudah kaget).
  • Saat malam hari anak-anak tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya, anak sering terjaga saat tidur (sebentar-sebentar bangun), dan seakan merasa ketakutan.
  • Anak –anak menjadi lebih manja (tidak bisa lepas dari ibunya), dan ingin selalu di gendong baik itu siang maupun malam.
  • Suhu badan anak yang Kena Sawan biasanya meningkat (Panas Demam), akan tetapi suhu pada bagian telinga dan telapak kaki terasa dingin.

Sudah menjadi tradisi orang jawa bahwa Sawanen ini sering dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis, dan bisa disebabkan oleh hal-hal yang apabila di nalar “tidak masuk akal”. Namun hal ini sudah menjadi kepercayaan dari sejak dulu, sehingga menjadi tradisi turun temurun yang tidak boleh dilanggar. Bila dilanggar maka risikonya bisa “Kena Sawan”.

batu giok pengasihan

Macam-macam Sawanen

Sawanen pun ada macam-macam jenisnya. Ada sawanen mayit, yaitu larangan bagi anak-anak untuk tidak ikut melayat jika ada orang yang meninggal. Ada pula sawan manten, ada juga sawan wedus, sawan angin. Yang jelas ciri dari sawanen tidak bisa ditangani secara medis.

Untuk lebih lengkapnya berikut macam sawanen beserta cara menghilangkannya.

Sawanen Mayit

Anak-anak sebaiknya tidak diajak pergi melayat (ta’ziyah), setelah melayat semua barang yang kita pakai dan kita bawa ketika melayat harus ditaruh dulu diluar rumah sebelum dibawa masuk, hal ini dilakukan agar anak tidak Kena Sawan Mayit.

Bila sudah Kena Sawan Mayit maka mengobatinya harus mencapur Sawanan (Ramuan yang terdiri dari Bangle dan Dlingo) di campur tanah bekas terkena air saat memandikan jenazah. Dan kemudian ramuan tersebut kemudian di balurkan ke seluruh tubuh.

Sawanen Manten

Anak balita juga dianjurkan oleh para orangtua kita untuk tidak diajak ke acara-acara tertentu, seperti: acara Walimatul ‘ursy (acara pernikahan), agar anak tidak Kena Sawan Manten. Bila anak kena Sawan Manten (pengantin) maka mengatasinya adalah dengan memberikan ramuan Sawanan tadi yang telah dicampur bunga yang telah digunakan oleh kedua mempelai.

Atau bila ingin menangkal Sawanen Manten ketika anak diajak ke resepesi pernikahan, maka ibu biasanya meminta sedikit bunga yang digunakan oleh kedua mempelai, dan kemudian bunga tersebut dibawa oleh ibu dengan mengikatkannya di ujung kain gendongan si anak.

Sawanen Bayi

Selain itu anak balita juga sebaiknya tidak diajak “Tilik Bayi” (menjenguk kerabat atau teman yang habis melahirkan) agar anak kita tidak Kena Sawan Bayi. Untuk menangkal dan mengatasi anak yang terkena Sawan Bayi, umumnya kita dianjurkan untuk meminta sedikit bedak bayi yang habis kita jenguk, kemudian mengoleskannya ke anak.

Sawanen Wedus

Bahkan ibu hamil juga di larang makan daging kambing, “Mengko ndak sawanen wedus” (Nanti bisa Kena Sawan Kambing) kata orangtua jaman dulu. Karena menurut orangtua jaman dulu, makanan yang berasal dari mahkluk bernyawa, bisa nyawani (membuat Sawanen) pada janin yang dikandung bila dikonsumsi oleh ibu hamil.

Itulah yang menyebabkan perut ibu merasa melilit-lilit (kram) setelah makan makanan tertentu. Untuk mengatasi Sawan Kambing ini kita diharuskan membakar sisa tulang kambing, dan abu dari tulang kambing yang habis dibakar tersebut dicampur dengan minyak atau Ramuan sawanan yang kemudian dioleskan ke perut ibu hamil.

Nah, itulah beberapa penjelasan tentang sawanen. Penulis sendiri belum bisa memberikan kesimpulan secara ilmiah mengenai fenomena sawanen ini. Semoga bermanfaat.


Konsultasi Seputar Hal Spiritual, Pelarisan dan Pengasihan, Dengan Ibu Dewi Sundari dibawah ini

Atau Hubungi Admin Mas Wahyu dibawah ini :

Bacaan Paling Dicari:

error: Content is protected !!

telegram dewi sundari